Categories
Solo Travel Travel Turkiye

Kisah Petualangan 3 Kota: Ankara, Bursa dan Istanbul ala solo traveler

DAY 1: Ujian Kesabaran Lintas Benua (Jakarta – Dubai – Istanbul – Ankara)

Gila, ya, hari pertama ini bener-bener ujian fisik yang luar biasa mantap! Saya berangkat dari Jakarta jam 17.30 dan baru mendarat di Dubai jam 00.30 waktu setempat. Nah, di sini saya harus melakoni transit maut selama 12 jam. Bayangkan, baru keesokan harinya jam 9 pagi waktu Dubai, pesawat terbang lagi menuju Istanbul. Begitu menginjakkan kaki di Istanbul jam 2 siang, saya nggak pakai santai langsung gercep naik bus bandara menuju Terminal Bus Essenler.

Perjuangan belum selesai, dari Essenler saya langsung beli tiket bus malam menuju Ankara. Asli, rasanya rontok semua badan ini, karena saya baru sampai di Ankara jam 1 pagi waktu setempat—yang mana kalau di Jakarta itu sudah jam 6 pagi! Kalau ditotal-total dari pertama kali melangkah keluar rumah sampai tiba di hotel, total waktu perjalanan mencapai 42 jam. Bukan main rasanya, tapi demi petualangan, mari kita jalani dengan senyuman!

DAY 2: Bangun Siang & Menjelajah Sisi Religius Ankara

Setelah puas membayar utang tidur dan memulihkan energi yang terkuras habis, saya baru bangun agak siang. Hari ini agenda santai saja, menikmati suasana Ankara. Destinasi pertama adalah mengunjungi Masjid Kocatepe, masjid terbesar dan salah satu yang paling agung di Ankara. Desainnya luar biasa indah dan bikin adem di hati.

Selesai keliling masjid, perut sudah mulai demo. Saya mampir makan siang menu lokal Tavuk Divanyashi di area sekitar masjid—rasanya maknyus dan pas di lidah. Sore harinya, saya diajak oleh teman saya untuk mengunjungi tempat ibadah komunitas Alevi. Lokasinya unik sekali karena kami harus menanjak naik ke atas bukit. Tapi begitu sampai di atas, lelah langsung terbayar lunas karena kami bisa melihat hamparan kota Ankara dari ketinggian yang sangat estetik.

DAY 3: Sarapan Simit, Keramaian Anitkabir & Atakule Tanpa Naik

Pagi ini saya mencoba menu sarapan lokal yang sangat khas: roti Simit ditemani segelas teh Turki yang hangat. Mantap betul! Destinasi utama hari ini adalah Anitkabir, kompleks makam Mustafa Kemal Ataturk. Kebetulan sekali, saat saya datang lagi ada momen berkumpulnya mahasiswa dari berbagai universitas untuk prosesi kelulusan, jadi suasananya luar biasa ramai dan meriah. Sayang seribu sayang, saya melewatkan momen untuk merekam prosesi pergantian penjaga karena memori penyimpanan kamera saya mendadak penuh. Pelajaran berharga, nih!

Dari Anitkabir, saya mengisi perut di warung lokal terdekat sebelum melanjutkan perjalanan ke Atakule Shopping Mall. Di sini berdiri menara Atakule yang terkenal itu. Berhubung harus hemat anggaran, saya memutuskan tidak naik ke atas menara dan hanya puas foto-foto dari area taman di luar. Untungnya, taman luarnya sangat bagus dan terawat, jadi pas banget buat dapet latar belakang menara Atakule secara gratis dan tetap kelihatan kece.

DCIMCamera01IMG_20250704_153305_00_002.jp

DAY 4: Transit Kilat di Mall & Pindah ke Kota Bursa

Hari ini saatnya berpamitan dengan kota Ankara. Sebelum benar-benar meninggalkan kota ini, saya menyempatkan diri mampir sebentar ke sebuah mall yang lokasinya dekat dengan terminal bus Ankara untuk sekadar cuci mata dan membeli perbekalan ringan.

Perjalanan bus menuju Bursa memakan waktu beberapa jam. Begitu bus merapat di kota Bursa, hari rupanya sudah menjelang malam. Energi saya sudah tersedot di jalan, jadi setelah proses check-in hotel yang super kilat, saya langsung memutuskan untuk langsung tidur demi mengumpulkan tenaga untuk esok hari.

DAY 5: Menjelajah Bursa dengan Trem & Ujian Fisik Menuju Green Mosque

Saatnya eksplor kota Bursa! Hari ini sistem transportasinya seru karena saya memanfaatkan trem lokal untuk menuju ke masjid utama di Bursa. Dari sana, petualangan sesungguhnya dimulai: jalan kaki menuju Green Mosque (Masjid Hijau). Aduh mak, jalannya ternyata lumayan jauh dan rutenya menanjak terus tanpa ampun! Tapi begitu sampai di lokasi, arsitekturnya yang bernuansa hijau pirus bikin langsung takjub. Saya pun puas-puasin ambil foto dan rekam video di sana.

Setelah puas, kami kembali jalan kaki lagi menyusuri kota untuk mencari makan malam. Pilihan jatuh pada kuliner legendaris: Iskender Kebap. Potongan daging tipis disiram mentega cair panas… rasanya luar biasa surgawi! Untungnya untuk jalan pulang ke hotel, kami tinggal naik trem lagi dan turun di halte yang lokasinya dekat sekali dengan hotel tempat menginap. Aman!

DAY 6: Menikmati Bursa dari Ketinggian & Makam Bersejarah

Hari kedua di Bursa diisi dengan menikmati keindahan kota dari sudut pandang yang berbeda. Kami pergi ke area atas untuk melihat pemandangan kota Bursa yang terhampar luas dari ketinggian. Sungguh pemandangan yang menyegarkan mata.

Setelah itu, kami berziarah mengunjungi kompleks makam bersejarah Orhan Gazi, salah satu tokoh pendiri Kekaisaran Ottoman yang sangat dihormati di sini. Sisa hari diisi dengan memutar-mutar jalanan kota berniat mencari toko souvenir lokal untuk buah tangan, tapi entah kenapa hari ini dewi fortuna belum berpihak, kami tidak berhasil menemukannya. Ya sudahlah, tidak apa-apa.

DAY 7: Perjuangan Antara Bus, Ferry, dan Trem Menuju Istanbul

Perjalanan hari ini estafetnya luar biasa menguras keringat. Dari Bursa, kami naik MRT dulu sampai ke stasiun terakhir, lalu menyambung naik bus menuju daerah pelabuhan. Kondisi busnya penuh sesak, untungnya saya dapat tempat duduk, sementara teman saya terpaksa berdiri sepanjang jalan. Setibanya di pelabuhan, ternyata jadwal kapal menuju Istanbul masih agak lama. Akhirnya kami duduk santai menikmati pemandangan pinggir laut yang syahdu sambil mencari makan siang, yang berujung di gerai Burger King karena cari yang pasti-pasti saja.

Pengalaman naik kapal ferry menuju Istanbul ini seru banget, cuma butuh waktu sekitar 1 jam saja mengarungi laut. Tapi begitu sampai di Istanbul, perjuangan sesungguhnya kembali dimulai: kami harus berdesak-desakan naik trem untuk menuju ke lokasi hotel kami di daerah Cemberlitas. Benar-benar perjuangan berat membawa barang bawaan!

DAY 8: Keajaiban Fatih, Masjid Biru, dan Kucing-Kucing Gendut

Memilih hotel di area Fatih adalah keputusan yang super tepat karena eksplor Istanbul jadi mudah banget, cukup dengan modal jalan kaki saja! Destinasi wajib pertama tentu saja langsung menuju Blue Mosque (Masjid Biru) yang kubahnya sangat anggun, kemudian melipir ke seberangnya menuju Hagia Sophia (Aya Sofya) yang sarat akan sejarah luar biasa.

Di sekitar kompleks itu, kami juga menyempatkan diri mengunjungi kompleks pemakaman keluarga raja zaman dulu yang arsitekturnya sangat megah. Dan bonus terbaik hari ini: saya senang sekali karena di sepanjang jalan bisa bertemu dengan banyak sekali kucing jalanan khas Turki yang super lucu, ramah, dan berbadan gendut-gendut menggemaskan! Bikin betah!

DAY 9: Romantisme Galata Tower, Krisis Harga Makanan & Trem Merah Taksim

Hari ini tujuan kami ke Galata Tower. Sebelum ke menara, saya sempat mencoba kuliner lokal berupa nasi yang di atasnya diberi suwiran daging ayam—sederhana tapi enak. Pas sampai di Galata Tower, karena tiket naik ke atas menara mahal sekali, kami memutuskan tidak naik. Kami hanya duduk santai di kafe bawahnya sambil memesan sepotong San Sebastian Cheesecake yang rasanya luar biasa enak. Karena harga makanan di Turki tahun 2025 ini naiknya bukan main alias mahal banget, akhirnya kami beli prinsip hemat: sepiring cheesecake berdua dan satu gelas minuman pun dinikmati berdua. Yang penting kebersamaannya, kan?

Setelah itu, saat jalan kaki kami tidak sengaja menemukan stasiun awal dari trem merah kuno yang sangat terkenal itu. Tanpa pikir panjang, kami langsung naik dengan modal tap Istanbulkart saja. Trem membawa kami menyusuri Istiklal Street yang ramai hingga tiba di stasiun terakhir di Taksim Square, tempat Monumen Republik berdiri megah. Untuk arah pulangnya, kami memanfaatkan MRT menuju ke stasiun trem lagi untuk kembali ke hotel.

DAY 10: Berburu Suasana Kapali Carsi, Istana Dolmabahce & Komunitas Couchsurfing

Hari ini agenda utamanya adalah mengunjungi Kapali Carsi (Grand Bazaar). Ini surganya tempat belanja ya, penuh sesak dengan toko souvenir, perhiasan emas, karpet, dan pernak-pernik lainnya. Masalah harga? Ya begitu deh, harus pintar-pintar menawar. Saya di sini hanya muter-muter santai sambil merekam video suasana sekitar. Dari sana, perjalanan berlanjut ke Istana Dolmabahce. Sayangnya kami tidak masuk ke dalam karena tiket untuk turis asing luar biasa mahal, hari pun sudah sore, ditambah aturan saat itu yang melarang ambil foto/video di dalam istana.

Hari ini juga jadi momen perpisahan dengan teman seperjalanan saya karena dia harus kembali ke Ankara. Sisa hari saya habiskan dengan mencoba naik ferry sendirian menuju lokasi pertemuan komunitas Couchsurfing Istanbul. Jalan kakinya luar biasa jauh sampai kaki mau copot, tapi pengalamannya seru banget, bisa kenalan dengan teman baru, dan bersyukur saya bisa pulang kembali ke hotel dengan selamat malam harinya.

DAY 11 & 12: Sayonara Turkiye, Kembali ke Rumah Tercinta

  • Day 11: Waktunya pulang ke Indonesia. Saya check-out dari hotel jam 11 pagi dan langsung meluncur menuju Bandara Istanbul. Kali ini saya terbang menggunakan maskapai IndiGo dengan rute penerbangan yang mengharuskan transit terlebih dahulu di New Delhi, India.
  • Day 12: Perjalanan panjang berlanjut, saya masih harus transit sekali lagi di Singapura sebelum akhirnya terbang menuju tujuan akhir, Jakarta. Pesawat akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta jam 10 malam.

Rasa lelahnya luar biasa dari ujung kepala sampai ujung kaki, tapi hati ini rasanya happy dan puas banget! Sampai ketemu lagi di petualangan solo traveling saya berikutnya ya!