Di media sosial, solo traveling kelihatannya seru banget: bebas pergi ke mana aja tanpa perlu nungguin teman, foto-foto estetik, dan kelihatan mandiri banget. Tapi jujur deh, di balik indahnya konten jalan-jalan sendirian, ada realitas dan tantangan yang lumayan bikin ngelus dada.
Buat kamu yang lagi ngerencanain jalan-jalan sendiri, ini dia sisi gelap solo travel yang wajib kamu tahu biar makin siap mental!
1. Bebas Sih, Tapi Dompet Diuji (Hotel & Taksi Ditanggung Sendiri)
Momen paling kerasa pas solo travel adalah saat bayar tagihan. Nggak ada istilah “split bill”!
Kamar Hotel: Mau tidur di kamar isi satu atau dua kasur, harganya tetap sama. Kamu harus bayar full tanpa ada teman patungan.
Ongkos Transportasi: Naik taksi atau sewa mobil sendirian harganya berlipat-lipat lebih mahal dibanding kalau bisa bagi berdua atau bertiga.
2. Pas Sakit, Semua Harus Diurus Sendiri
Ini salah satu momen paling dramatis pas jalan-jalan. Pas badan mendadak demam, masuk angin, atau asam lambung naik di negeri orang:
Nggak ada yang nemenin, ngambilin air minum, atau beliin obat ke apotek.
Dengan kondisi badan lemas dan pusing, kamu tetap harus mikir sendiri, nyari apotek terdekat, atau bahkan maksain jalan ke klinik sendirian.
3. Keamanan Ekstra Waspada (Khususnya Buat Wanita) & Bayang-Bayang Scammer
Isu keamanan emang jadi prioritas nomor satu, apalagi buat solo traveler wanita.
Harus punya “radar” yang selalu aktif buat menghindari area rawan atau orang yang berniat jahat.
Jadi sasaran empuk scammer atau penipu lokal karena kamu kelihatan sendirian dan kebingungan. Mau ngobrol sama orang asing pun kadang harus mikir dua kali antara mau ramah atau waspada.
4. Kena Decision Fatigue (Kelelahan Mengambil Keputusan)
Kelihatannya enak bisa bebas nentuin mau ke mana aja, tapi lama-lama otak bisa capek banget.
Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, 100% keputusan ada di tanganmu. Mau makan apa, naik bus nomor berapa, pindah kota jam berapa, sampai urusan jalan mana yang aman.
Nggak ada teman buat sekadar dibilang, “Kamu aja deh yang milih restorannya, aku ikut aja.”
5. Rasa Kesepian yang Datang Tiba-Tiba
Pasti ada momen-momen rentan di mana kamu merasa emotional isolation.
Pas ngeliat pemandangan luar biasa bagus atau makan makanan enak banget, tiba-tiba ada rasa nyesek karena nggak ada teman di samping yang bisa diajak sharing kehebohan secara langsung.
Rasa sepi ini biasanya makin kerasa pas malam hari di kamar hotel atau saat kena culture shock.
6. Nggak Bisa “Nitip” Barang & Repot Urusan Logistik
Hal-hal sepele bisa jadi tantangan berat kalau lagi sendirian di tempat umum.
Urusan ke toilet: Mau ke toilet stasiun atau bandara? Kamu harus gotong seluruh koper dan ransel berat masuk ke dalam bilik mandi. Nggak ada teman yang bisa dititipin.
Urusan Foto: Mau dapat foto bagus? Harus modal sabar pasang tripod sendirian, atau pasrah minta tolong orang lewat yang hasil fotonya belum tentu sesuai harapan.
7. Travel Burnout dan Kehilangan Rasa Kagum
Kalau jalannya agak lama, bakal ada fase di mana kamu merasa jenuh dan kecapekan total.
Candi, pantai, atau bangunan bersejarah yang megah bisa terasa “biasa aja” karena fisikan dan pikiranmu udah terlalu lelah ngurusin logistik sendirian.
Nggak ada energi tambahan dari teman perjalanan buat bikin suasana jadi seru lagi.
Kesimpulannya?
Solo travel itu emang memberikan kebebasan luar biasa dan bikin kita makin tangguh. Tapi ingat, bayarannya adalah semua beban finansial, fisik, dan mental harus ditanggung 100% sendirian.
Kalau ada satu hal yang menurutku wajib dipersiapkan sebelum solo traveling ke luar negeri, jawabannya bukan koper, bukan baju, bahkan bukan itinerary. Tapi koneksi internet.
Percaya deh, saat jalan sendirian, internet itu bukan sekadar buat upload foto atau update media sosial. Internet adalah “teman perjalanan” yang akan sangat membantu ketika mencari arah, memesan transportasi, menghubungi hotel, sampai mencari informasi darurat.
Karena itu, sekarang aku selalu memilih menggunakan eSIM setiap kali bepergian ke luar negeri. Jauh lebih praktis dibanding harus mencari konter kartu SIM lokal setelah mendarat.
Kalau kamu juga sedang merencanakan liburan ke luar negeri, sebaiknya beli eSIM sebelum berangkat, supaya begitu pesawat mendarat, koneksi internet langsung aktif dan kamu bisa langsung beraktivitas tanpa ribet.
Kalau ingin membeli eSIM, silakan klik halaman ini dan pilih paket yang paling sesuai dengan kebutuhan perjalananmu.
1. Langsung Online Begitu Mendarat
Ini keuntungan yang paling terasa.
Begitu pesawat landing, kamu bisa langsung membuka Google Maps, memesan transportasi online, menghubungi hotel, atau memberi kabar ke keluarga kalau sudah sampai dengan selamat.
Nggak perlu antre beli kartu SIM lokal atau bingung mencari konter di bandara.
2. Lebih Hemat Waktu dan Tenaga
Saat solo traveling, setiap menit itu berharga.
Daripada menghabiskan waktu mencari toko kartu SIM atau mencoba memahami paket internet lokal yang bahasanya belum tentu kita mengerti, lebih baik waktu tersebut dipakai untuk mulai menikmati perjalanan.
Semua sudah siap sebelum berangkat.
3. Navigasi Jadi Lebih Mudah
Google Maps adalah penyelamat saat jalan sendiri.
Mau cari restoran halal, halte bus, stasiun metro, supermarket, ATM, atau hotel, semuanya tinggal buka peta.
Dengan koneksi internet yang stabil, peluang tersesat juga jadi jauh lebih kecil.
4. Lebih Aman Saat Kondisi Darurat
Solo traveling memang menyenangkan, tetapi tetap perlu memikirkan faktor keamanan.
Kalau sewaktu-waktu terjadi perubahan jadwal, kehilangan arah, atau membutuhkan bantuan, internet akan memudahkan kita mencari informasi maupun menghubungi orang yang diperlukan.
Sebagai langkah antisipasi, selalu simpan nomor telepon dan alamat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) atau Konsulat RI terdekat di negara tujuan. Semoga tidak pernah digunakan, tetapi lebih baik sudah siap daripada panik saat dibutuhkan.
5. Tetap Bisa Mengatur Semua Rencana Perjalanan
Mulai dari mengecek jadwal kereta, membeli tiket atraksi, memesan transportasi, sampai mencari rekomendasi tempat makan, semuanya sekarang serba online.
Dengan eSIM, kamu bisa mengatur perjalanan kapan saja tanpa harus bergantung pada Wi-Fi hotel atau kafe.
Rasanya jauh lebih tenang karena semua informasi ada di genggaman.
Tips Menggunakan eSIM Saat Traveling
Supaya perjalanan makin nyaman, ini beberapa tips yang selalu aku lakukan:
Beli eSIM sebelum hari keberangkatan, jadi tidak terburu-buru saat di bandara.
Pastikan smartphone yang digunakan sudah mendukung eSIM.
Aktifkan eSIM sesuai petunjuk, lalu cek kembali sebelum berangkat.
Tetap simpan SIM utama agar nomor WhatsApp dan layanan penting lainnya tetap bisa digunakan jika diperlukan.
Simpan nomor KBRI atau Konsulat RI terdekat di kontak ponsel sebagai langkah antisipasi selama perjalanan.
Menurutku, eSIM adalah salah satu pengeluaran kecil yang manfaatnya sangat besar, terutama untuk solo traveler. Perjalanan jadi lebih efisien, lebih praktis, dan tentu saja memberikan rasa tenang sejak pertama kali tiba di negara tujuan.
Kalau kamu juga sedang menyiapkan liburan ke luar negeri, klik halaman ini untuk membeli eSIM yang sesuai dengan destinasi perjalananmu. Lebih enak berangkat dengan semua kebutuhan internet sudah beres dari rumah.
Salah satu pertanyaan yang paling sering aku terima setelah solo traveling ke Azerbaijan dan Georgia adalah, “Kalau jalan sendiri, gimana ke tempat-tempat yang jauh dari kota?”
Jawabannya sederhana. Walaupun semua itinerary selama perjalanan aku susun sendiri, ada beberapa destinasi yang memang lebih praktis kalau menggunakan day tour. Kebetulan selama di Azerbaijan dan Georgia aku pesan tour melalui Trip.com.
Yang aku suka, pilihan tournya banyak dan fleksibel. Tinggal pilih sesuai kebutuhan dan destinasi yang diinginkan. Bahkan aku sering baru pesan H-2, kadang malah sehari sebelum berangkat, dan semuanya tetap berjalan lancar.
Azerbaijan: Lebih Praktis Pakai Tour
Ada beberapa tempat wisata di Azerbaijan yang menurutku jauh lebih efisien kalau menggunakan tour. Selain jaraknya cukup jauh dari pusat kota, beberapa lokasi juga tidak memiliki transportasi umum. Kalau harus naik taksi pulang-pergi atau menyewa mobil sendiri, biayanya justru jauh lebih mahal.
Selama di Azerbaijan, aku ikut dua kali day tour.
Day 1
Candy Cane Mountain
Quba
Shahdag Mountain Resort
Pemandangannya luar biasa indah. Dari perbukitan bergaris unik sampai pegunungan bersalju, semuanya bisa dinikmati tanpa harus repot memikirkan rute perjalanan.
Day 2
Sumur minyak pertama di dunia
Masjid Bibi Heybat
Gobustan
Mud Volcano
Makan siang
Yanardag (Gunung Api Abadi)
Hari kedua ini menurutku seru karena destinasinya sangat beragam. Mulai dari wisata sejarah, fenomena alam yang unik, sampai melihat api alami yang terus menyala.
Georgia: Tinggal Duduk Manis dan Menikmati Pemandangan
Saat berada di Georgia, aku juga memilih ikut day tour. Destinasinya adalah:
Zhinvali Reservoir
Ananuri Fortress
Gudauri
Sebenarnya perjalanan hari itu seharusnya sampai ke Kazbegi. Sayangnya, saat itu salju turun sangat tebal sehingga jalan ditutup demi alasan keselamatan.
Tapi tenang saja, pihak penyelenggara tour langsung memberikan destinasi pengganti, yaitu The Chronicle of Georgia di akhir perjalanan. Ternyata sama sekali tidak mengecewakan. Justru jadi pengalaman yang berbeda dan tetap seru!
Kalau jalan-jalan di kota besar seperti Baku atau Tbilisi, aku lebih suka eksplor sendiri. Rasanya lebih bebas dan fleksibel.
Tapi kalau tujuan sudah mengarah ke pegunungan, kawasan alam, atau tempat-tempat yang jauh dari kota, menurutku jauh lebih nyaman menggunakan jasa tour. Tidak perlu pusing menyusun rute, mencari transportasi, atau menghitung biaya taksi yang bisa membengkak.
Apalagi kalau solo traveling. Tinggal datang ke titik kumpul, naik bus, duduk santai, menikmati perjalanan, dan pulang dengan membawa banyak pengalaman seru.
Menurutku, dengan harga yang masih masuk akal, day tour seperti ini benar-benar worth it.
Kalau kamu juga sedang merencanakan liburan ke Azerbaijan atau Georgia, jangan ragu untuk pesan dari sekarang.
Buat yang masih ragu mencoba female solo traveling, semoga itinerary ini bisa jadi inspirasi. Sebagai seorang muslimah yang bepergian sendiri, perjalanan selama 9 hari di Azerbaijan dan Georgia memberikan banyak pengalaman berharga. Mulai dari bertemu orang-orang baru, menikmati keindahan alam, hingga belajar bahwa traveling sendirian ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Justru setiap harinya dipenuhi cerita dan kenangan yang akan selalu diingat.
Hari 1 – Menyapa Keindahan Kota Tua Baku
Perjalanan dimulai dari Baku, Azerbaijan, kota yang berhasil memadukan bangunan modern dengan sejarah yang masih terjaga. Hari pertama aku habiskan dengan berjalan santai menyusuri jalanan berbatu di Kota Tua (Old City). Rasanya seperti kembali ke masa lalu, dengan lorong-lorong kecil yang penuh pesona.
Setelah itu aku mampir ke Carpet Museum. Kali ini hanya sempat berfoto di bagian luar karena bentuk bangunannya yang unik menyerupai gulungan karpet sudah sangat ikonik. Sore harinya, perjalanan ditutup dengan menikmati suasana modern di Deniz Mall sambil melihat pemandangan Laut Kaspia.
Day 3 explore baku Azerbaijan. Dari pagi hujannya deras sehingga udara dingin dan berangin, mereda sekitar jam 10.00 dan aku langsung keluar hotel untuk foto-foto explore Kota Tua dari baku. Kembali ke hotel untuk check out dan jalan-jalan lagi. Aku sempat mampir ke Denis mall dan Museum karpet dari luar, kakiku sakit sekali karena melangkah terlalu jauh. 19.000 langkahku habiskan di hari itu. Aku harus pindah hotel dan hotel berikutnya tidak sesuai ekspektasi, kamarnya terlalu dingin, dan ada kesan horor. Walaupun begitu, aku tetap berusaha tidak mengeluh dan bertahan dengan kain selimut tipis dan baju berlapis. Bagaimanapun juga hariku berjalan dengan baik, dipertemukan dengan orang-orang baik, Alhamdulillah ya Allah. #jalanjalan#solotravel#femalesolotravel
Bisa cek dan booking pesawat ke Baku, Azerbaijan klik disini
Hari 2 – Ikon Modern Baku yang Wajib Dikunjungi
Hari kedua diisi dengan mengunjungi Heydar Aliyev Center yang terkenal dengan desain arsitekturnya yang futuristik. Bangunan ini benar-benar cantik dari berbagai sudut.
Selesai dari sana, aku melanjutkan perjalanan ke Nizami Street, kawasan favorit untuk berjalan kaki, belanja, sekaligus menikmati suasana kota. Yang paling berkesan adalah hamparan bunga tulip cantik di sepanjang area dekat laut, membuat suasana musim semi terasa semakin hidup.
Hari 3 – Open Trip ke Candy Cane Mountain & Shahdag
Hari ketiga menjadi salah satu highlight perjalanan. Aku mengikuti open trip menuju Candy Cane Mountain yang terkenal dengan garis-garis merah putih alami di perbukitannya. Pemandangannya benar-benar unik.
Perjalanan dilanjutkan menuju Pegunungan Shahdag yang menawarkan panorama pegunungan luas dengan udara yang sangat segar. Cocok sekali buat yang ingin menikmati sisi alam Azerbaijan.
Day 5 perjalananku di Azerbaijan, Hari ini aku memutuskan ikut tour untuk pergi ke candy cane mountain dan juga Shadag Mountain. sudah jadi impianku untuk foto di Gunung berwarna pink, sayangnya di situ hanya dikasih waktu 15 menit dan kemudian kami menuju ke quba untuk makan siang. Setelah itu kita ke Shadag Mountain dan aku nggak ekspek ternyata masih ada es di atas gunung, jadi aku bisa lihat pemandangan yang indah , bahkan cobain main es. aku happy banget #jalanjalan#solotravel#azerbaijan
Untuk ikut tour yang sudah disiapkan, bisa klik disini.
Hari 4 – Sejarah, Budaya, dan Fenomena Alam Azerbaijan
Hari keempat dipenuhi destinasi yang sangat beragam. Dimulai dari Gobustan yang terkenal dengan situs seni cadas purbakala berusia ribuan tahun.
Selanjutnya aku mengunjungi Bibi Heybat Mosque yang menjadi salah satu masjid penting di Baku. Sebagai muslimah, rasanya menyenangkan bisa singgah dan beribadah di sini.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Fire Temple dan ditutup di Yanar Dag, bukit api alami yang terus menyala sepanjang waktu. Fenomena alam ini benar-benar unik dan menjadi pengalaman yang berbeda selama berada di Azerbaijan.
Hari kelima menjadi hari perpindahan negara. Aku terbang dari Baku menuju Tbilisi, Georgia. Setelah tiba, waktunya lebih banyak digunakan untuk check-in hotel, beristirahat, dan mengisi tenaga untuk petualangan berikutnya.
Hari 6 – Menjelajahi Kota Tua Tbilisi
Hari pertama di Georgia langsung dimulai dengan berjalan kaki menyusuri Kota Tua Tbilisi. Aku mampir ke Kvarts Coffee yang estetik, melihat kemegahan Opera House Tbilisi, hingga mengunjungi Clock Tower yang ikonik.
Perjalanan dilanjutkan menyeberangi Bridge of Peace yang menghubungkan kawasan kota tua dengan sisi modern Tbilisi. Dari sana aku naik cable car menuju Bukit Sololaki untuk melihat patung Mother of Georgia sekaligus menikmati panorama kota dari ketinggian.
Hari 7 – Road Trip Menuju Pegunungan Georgia
Hari ketujuh aku mengikuti tour menuju kawasan pegunungan Georgia. Destinasi pertama adalah Zhinvali Reservoir dengan air berwarna biru kehijauan yang sangat indah.
Perjalanan dilanjutkan ke Benteng Ananuri yang memiliki nilai sejarah tinggi, kemudian melintasi kawasan Gudauri dengan panorama Pegunungan Kaukasus yang luar biasa cantik.
Sore harinya sebelum kembali ke kota, aku mengunjungi Chronicles of Georgia. Monumen raksasa ini terasa megah sekaligus menjadi tempat terbaik untuk menikmati matahari terbenam.
Day 9 Hari ini aku ikut tour berkelana di Gunung. Ternyata Aku diajakin ke pegunungan salju, kaget banget karena aku bisa nginjak dan megang salju, bahkan kepleset 4 kali senangnya cuma 5 menit Abis itu langsung nyari tempat anget lagi aku nggak main apa-apa di sana minum teh dan santai aja pas aku mau pulang aku ketemu sama orang Indonesia yang juga lagi main di Gudauri. perjalanan ke kazbegi dibatalkan diganti dengan Chronicles of Georgia seru juga sih di situ Setelah itu aku langsung pulang ke hotel #jalanjalan#georgia#solotravel
Hari kedelapan berjalan lebih santai. Aku mengunjungi salah satu katedral utama di Tbilisi sebelum melanjutkan berburu barang antik dan suvenir di Dry Bridge Market.
Tentu saja belum lengkap kalau belum mencoba kuliner khas Georgia. Aku memilih mencicipi Khinkali yang terkenal dengan isian daging dan kuah hangat di dalamnya. Rasanya benar-benar berbeda dari dumpling yang biasa aku makan.
Hari 9 – Sampai Jumpa, Georgia
Hari terakhir terasa sedikit emosional. Sebelum menuju bandara, aku kembali mengunjungi Dry Bridge Market untuk menikmati suasana pagi sekaligus membeli beberapa oleh-oleh terakhir.
Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan penerbangan menuju Istanbul, Turki. Rasanya berat meninggalkan Azerbaijan dan Georgia, tetapi perjalanan ini memberikan begitu banyak pengalaman berharga, terutama sebagai seorang female solo traveler muslimah.
Solo traveling bukan hanya soal berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga tentang mengenal diri sendiri, belajar lebih mandiri, dan berani keluar dari zona nyaman. Azerbaijan dan Georgia menjadi dua negara yang meninggalkan kesan mendalam, dengan perpaduan sejarah, alam, budaya, serta keramahan penduduk lokal yang membuatku ingin kembali suatu hari nanti.
Ini perjalananku di Jepang selama 7 hari. Silahkan dibaca dan ditonton videonya, mungkin bisa memberikan inspirasi dan ide untuk itinerary kamu berikutnya.
Day 1 – Jakarta → Nagoya → Gifu → Takayama Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Nagoya, lalu lanjut naik transportasi darat ke Gifu dan Takayama. Hari pertama memang lebih banyak dihabiskan di jalan, tapi ada satu misi penting yang nggak boleh dilewatkan: langsung menuju terminal bus untuk membeli tiket bus Kamikochi pulang-pergi (return) melalui vending machine. Tiket ini tidak bisa dibeli secara online dan menggunakan sistem first come, first serve, jadi semakin cepat diamankan, semakin tenang perjalanan berikutnya. Setelah semuanya beres, nikmati suasana kota pegunungan Takayama yang tenang dan klasik sebelum beristirahat.
Day 2 – Kamikochi Adventure Pagi-pagi berangkat dari Takayama menuju Hirayu Onsen, lalu lanjut ke Kamikochi dan memulai perjalanan dari Taisho Pond. Mulai hiking sekitar pukul 08.30 dengan pemandangan sungai sebening kristal, pegunungan Alpen Jepang, dan jalur trekking yang ramah untuk semua level. Trek selesai sekitar pukul 14.30. Setelah kembali ke Takayama, masih ada waktu untuk berjalan santai di Takayama Old Town yang penuh bangunan tradisional era Edo. Tutup hari dengan makan malam di Kyoshi sambil menikmati suasana kota kecil yang hangat dan autentik.
Day 3 – Takayama → Shirakawa-go → Kanazawa Pagi hari menuju Shirakawa-go, desa warisan dunia yang terkenal dengan rumah jerami bergaya gassho-zukuri. Nggak perlu buru-buru, cukup menikmati pemandangan ikoniknya, foto-foto, dan tentu saja mencicipi es krim lokal yang terkenal. Setelah itu lanjut naik bus pukul 11.20 menuju Kanazawa. Setibanya di Kanazawa, langsung telepon untuk melakukan reservasi kunjungan ke Ninja Temple dua hari ke depan karena tiketnya cukup terbatas.
Day 4 – Kanazawa dengan Sentuhan Tradisional Hari ini waktunya merasakan suasana Jepang klasik dengan menyewa kimono. Berjalan santai menyusuri taman-taman cantik Kanazawa dan mengunjungi Istana Kanazawa yang megah. Kombinasi arsitektur tradisional, taman yang tertata rapi, dan suasana kota yang tenang bikin pengalaman terasa seperti masuk ke Jepang zaman dulu.
Day 5 – Hidden Side of Kanazawa Mulai pagi dengan menjelajahi Nishi Chaya District yang lebih tenang dibanding kawasan geisha lainnya. Setelah itu menuju Ninja Temple sesuai reservasi. Menariknya, tur di dalam hanya tersedia dalam bahasa Jepang dan durasinya sekitar 45 menit. Meski begitu, bangunan penuh lorong rahasia dan jebakan ini tetap seru untuk dijelajahi. Setelah selesai, lanjut ke Samurai District untuk melihat rumah-rumah samurai yang masih terawat serta taman-taman cantik yang menghadirkan nuansa Jepang klasik.
Day 6 – Kanazawa → Nagoya Berangkat pagi menuju Nagoya menggunakan bus. Setelah tiba, sempatkan membeli One Day Subway Pass agar lebih praktis berkeliling kota. Destinasi pertama adalah Nagoya Castle yang bisa dieksplor hingga sekitar pukul 15.30. Setelah itu lanjut ke Tsutaya Bookstore yang terkenal dengan desain modern dan spot foto estetik. Menjelang sore, menuju kawasan Sakae untuk menikmati suasana kota Nagoya saat senja, lengkap dengan gemerlap lampu kota yang mulai menyala.
Day 7 – Nagoya → Jakarta Hari terakhir di Jepang. Nikmati pagi yang santai di Nagoya sebelum menuju bandara untuk penerbangan kembali ke Jakarta. Tujuh hari yang penuh kombinasi alam, budaya, kota bersejarah, dan pengalaman unik Jepang pun resmi berakhir, meninggalkan banyak cerita yang siap dibawa pulang.
DAY 1: Ujian Kesabaran Lintas Benua (Jakarta – Dubai – Istanbul – Ankara)
Gila, ya, hari pertama ini bener-bener ujian fisik yang luar biasa mantap! Saya berangkat dari Jakarta jam 17.30 dan baru mendarat di Dubai jam 00.30 waktu setempat. Nah, di sini saya harus melakoni transit maut selama 12 jam. Bayangkan, baru keesokan harinya jam 9 pagi waktu Dubai, pesawat terbang lagi menuju Istanbul. Begitu menginjakkan kaki di Istanbul jam 2 siang, saya nggak pakai santai langsung gercep naik bus bandara menuju Terminal Bus Essenler.
Perjuangan belum selesai, dari Essenler saya langsung beli tiket bus malam menuju Ankara. Asli, rasanya rontok semua badan ini, karena saya baru sampai di Ankara jam 1 pagi waktu setempat—yang mana kalau di Jakarta itu sudah jam 6 pagi! Kalau ditotal-total dari pertama kali melangkah keluar rumah sampai tiba di hotel, total waktu perjalanan mencapai 42 jam. Bukan main rasanya, tapi demi petualangan, mari kita jalani dengan senyuman!
DAY 2: Bangun Siang & Menjelajah Sisi Religius Ankara
Setelah puas membayar utang tidur dan memulihkan energi yang terkuras habis, saya baru bangun agak siang. Hari ini agenda santai saja, menikmati suasana Ankara. Destinasi pertama adalah mengunjungi Masjid Kocatepe, masjid terbesar dan salah satu yang paling agung di Ankara. Desainnya luar biasa indah dan bikin adem di hati.
Selesai keliling masjid, perut sudah mulai demo. Saya mampir makan siang menu lokal Tavuk Divanyashi di area sekitar masjid—rasanya maknyus dan pas di lidah. Sore harinya, saya diajak oleh teman saya untuk mengunjungi tempat ibadah komunitas Alevi. Lokasinya unik sekali karena kami harus menanjak naik ke atas bukit. Tapi begitu sampai di atas, lelah langsung terbayar lunas karena kami bisa melihat hamparan kota Ankara dari ketinggian yang sangat estetik.
DAY 3: Sarapan Simit, Keramaian Anitkabir & Atakule Tanpa Naik
Pagi ini saya mencoba menu sarapan lokal yang sangat khas: roti Simit ditemani segelas teh Turki yang hangat. Mantap betul! Destinasi utama hari ini adalah Anitkabir, kompleks makam Mustafa Kemal Ataturk. Kebetulan sekali, saat saya datang lagi ada momen berkumpulnya mahasiswa dari berbagai universitas untuk prosesi kelulusan, jadi suasananya luar biasa ramai dan meriah. Sayang seribu sayang, saya melewatkan momen untuk merekam prosesi pergantian penjaga karena memori penyimpanan kamera saya mendadak penuh. Pelajaran berharga, nih!
Dari Anitkabir, saya mengisi perut di warung lokal terdekat sebelum melanjutkan perjalanan ke Atakule Shopping Mall. Di sini berdiri menara Atakule yang terkenal itu. Berhubung harus hemat anggaran, saya memutuskan tidak naik ke atas menara dan hanya puas foto-foto dari area taman di luar. Untungnya, taman luarnya sangat bagus dan terawat, jadi pas banget buat dapet latar belakang menara Atakule secara gratis dan tetap kelihatan kece.
DCIMCamera01IMG_20250704_153305_00_002.jp
DAY 4: Transit Kilat di Mall & Pindah ke Kota Bursa
Hari ini saatnya berpamitan dengan kota Ankara. Sebelum benar-benar meninggalkan kota ini, saya menyempatkan diri mampir sebentar ke sebuah mall yang lokasinya dekat dengan terminal bus Ankara untuk sekadar cuci mata dan membeli perbekalan ringan.
Perjalanan bus menuju Bursa memakan waktu beberapa jam. Begitu bus merapat di kota Bursa, hari rupanya sudah menjelang malam. Energi saya sudah tersedot di jalan, jadi setelah proses check-in hotel yang super kilat, saya langsung memutuskan untuk langsung tidur demi mengumpulkan tenaga untuk esok hari.
DAY 5: Menjelajah Bursa dengan Trem & Ujian Fisik Menuju Green Mosque
Saatnya eksplor kota Bursa! Hari ini sistem transportasinya seru karena saya memanfaatkan trem lokal untuk menuju ke masjid utama di Bursa. Dari sana, petualangan sesungguhnya dimulai: jalan kaki menuju Green Mosque (Masjid Hijau). Aduh mak, jalannya ternyata lumayan jauh dan rutenya menanjak terus tanpa ampun! Tapi begitu sampai di lokasi, arsitekturnya yang bernuansa hijau pirus bikin langsung takjub. Saya pun puas-puasin ambil foto dan rekam video di sana.
Setelah puas, kami kembali jalan kaki lagi menyusuri kota untuk mencari makan malam. Pilihan jatuh pada kuliner legendaris: Iskender Kebap. Potongan daging tipis disiram mentega cair panas… rasanya luar biasa surgawi! Untungnya untuk jalan pulang ke hotel, kami tinggal naik trem lagi dan turun di halte yang lokasinya dekat sekali dengan hotel tempat menginap. Aman!
DAY 6: Menikmati Bursa dari Ketinggian & Makam Bersejarah
Hari kedua di Bursa diisi dengan menikmati keindahan kota dari sudut pandang yang berbeda. Kami pergi ke area atas untuk melihat pemandangan kota Bursa yang terhampar luas dari ketinggian. Sungguh pemandangan yang menyegarkan mata.
Setelah itu, kami berziarah mengunjungi kompleks makam bersejarah Orhan Gazi, salah satu tokoh pendiri Kekaisaran Ottoman yang sangat dihormati di sini. Sisa hari diisi dengan memutar-mutar jalanan kota berniat mencari toko souvenir lokal untuk buah tangan, tapi entah kenapa hari ini dewi fortuna belum berpihak, kami tidak berhasil menemukannya. Ya sudahlah, tidak apa-apa.
DAY 7: Perjuangan Antara Bus, Ferry, dan Trem Menuju Istanbul
Perjalanan hari ini estafetnya luar biasa menguras keringat. Dari Bursa, kami naik MRT dulu sampai ke stasiun terakhir, lalu menyambung naik bus menuju daerah pelabuhan. Kondisi busnya penuh sesak, untungnya saya dapat tempat duduk, sementara teman saya terpaksa berdiri sepanjang jalan. Setibanya di pelabuhan, ternyata jadwal kapal menuju Istanbul masih agak lama. Akhirnya kami duduk santai menikmati pemandangan pinggir laut yang syahdu sambil mencari makan siang, yang berujung di gerai Burger King karena cari yang pasti-pasti saja.
Pengalaman naik kapal ferry menuju Istanbul ini seru banget, cuma butuh waktu sekitar 1 jam saja mengarungi laut. Tapi begitu sampai di Istanbul, perjuangan sesungguhnya kembali dimulai: kami harus berdesak-desakan naik trem untuk menuju ke lokasi hotel kami di daerah Cemberlitas. Benar-benar perjuangan berat membawa barang bawaan!
DAY 8: Keajaiban Fatih, Masjid Biru, dan Kucing-Kucing Gendut
Memilih hotel di area Fatih adalah keputusan yang super tepat karena eksplor Istanbul jadi mudah banget, cukup dengan modal jalan kaki saja! Destinasi wajib pertama tentu saja langsung menuju Blue Mosque (Masjid Biru) yang kubahnya sangat anggun, kemudian melipir ke seberangnya menuju Hagia Sophia (Aya Sofya) yang sarat akan sejarah luar biasa.
Di sekitar kompleks itu, kami juga menyempatkan diri mengunjungi kompleks pemakaman keluarga raja zaman dulu yang arsitekturnya sangat megah. Dan bonus terbaik hari ini: saya senang sekali karena di sepanjang jalan bisa bertemu dengan banyak sekali kucing jalanan khas Turki yang super lucu, ramah, dan berbadan gendut-gendut menggemaskan! Bikin betah!
DAY 9: Romantisme Galata Tower, Krisis Harga Makanan & Trem Merah Taksim
Hari ini tujuan kami ke Galata Tower. Sebelum ke menara, saya sempat mencoba kuliner lokal berupa nasi yang di atasnya diberi suwiran daging ayam—sederhana tapi enak. Pas sampai di Galata Tower, karena tiket naik ke atas menara mahal sekali, kami memutuskan tidak naik. Kami hanya duduk santai di kafe bawahnya sambil memesan sepotong San Sebastian Cheesecake yang rasanya luar biasa enak. Karena harga makanan di Turki tahun 2025 ini naiknya bukan main alias mahal banget, akhirnya kami beli prinsip hemat: sepiring cheesecake berdua dan satu gelas minuman pun dinikmati berdua. Yang penting kebersamaannya, kan?
Setelah itu, saat jalan kaki kami tidak sengaja menemukan stasiun awal dari trem merah kuno yang sangat terkenal itu. Tanpa pikir panjang, kami langsung naik dengan modal tap Istanbulkart saja. Trem membawa kami menyusuri Istiklal Street yang ramai hingga tiba di stasiun terakhir di Taksim Square, tempat Monumen Republik berdiri megah. Untuk arah pulangnya, kami memanfaatkan MRT menuju ke stasiun trem lagi untuk kembali ke hotel.
Hari ini agenda utamanya adalah mengunjungi Kapali Carsi (Grand Bazaar). Ini surganya tempat belanja ya, penuh sesak dengan toko souvenir, perhiasan emas, karpet, dan pernak-pernik lainnya. Masalah harga? Ya begitu deh, harus pintar-pintar menawar. Saya di sini hanya muter-muter santai sambil merekam video suasana sekitar. Dari sana, perjalanan berlanjut ke Istana Dolmabahce. Sayangnya kami tidak masuk ke dalam karena tiket untuk turis asing luar biasa mahal, hari pun sudah sore, ditambah aturan saat itu yang melarang ambil foto/video di dalam istana.
Hari ini juga jadi momen perpisahan dengan teman seperjalanan saya karena dia harus kembali ke Ankara. Sisa hari saya habiskan dengan mencoba naik ferry sendirian menuju lokasi pertemuan komunitas Couchsurfing Istanbul. Jalan kakinya luar biasa jauh sampai kaki mau copot, tapi pengalamannya seru banget, bisa kenalan dengan teman baru, dan bersyukur saya bisa pulang kembali ke hotel dengan selamat malam harinya.
DAY 11 & 12: Sayonara Turkiye, Kembali ke Rumah Tercinta
Day 11: Waktunya pulang ke Indonesia. Saya check-out dari hotel jam 11 pagi dan langsung meluncur menuju Bandara Istanbul. Kali ini saya terbang menggunakan maskapai IndiGo dengan rute penerbangan yang mengharuskan transit terlebih dahulu di New Delhi, India.
Day 12: Perjalanan panjang berlanjut, saya masih harus transit sekali lagi di Singapura sebelum akhirnya terbang menuju tujuan akhir, Jakarta. Pesawat akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta jam 10 malam.
Rasa lelahnya luar biasa dari ujung kepala sampai ujung kaki, tapi hati ini rasanya happy dan puas banget! Sampai ketemu lagi di petualangan solo traveling saya berikutnya ya!
Tepat 1 bulan sebelum Covid19 saya berkunjung ke India, pada saat itu saya memilih 3 kota populer sebagai destinasi, New Delhi – Agra – Jaipur. Sepulang dari India, saya menyadari banyak cerita unik dan menarik dari perjalanan saya.
Setelah melalui pandemi Covid 19, akhirnya saya bisa berlibur ke luar negeri dengan prosedur tambahan. Dan saya kembali memilih India sebagai destinasi. India mempunyai banyak provinsi, beragam kebudayaan, bahasa dan kebiasaan, sehingga saya ingin menjelajahi India lagi. Disamping, tiket pesawatnya terjangkau! Hah bilang aja murah gitu!
Di saat tiket pesawat ke negara lain melambung, tiket ke India, terutama Jakarta – Hyderabad, ramah di kantong saya.
Hyderabad sebagai pintu masuk, dan saya menghubungi Sophie, Arati dan TravellerG untuk membantu saya membuat rencana perjalanan.
Saya putuskan untuk mengunjungi teman-teman saya di Mumbai, maksudnya untuk surprise. Saya hubungi mereka setelah Visa saya disetujui, syukurlah semua berjalan dengan baik.
Di bawah ini detail rencana perjalanan saya di India, siapa tahu bisa menginspirasi Anda.
1 sep Arrive Hyderabad 11pm 2 sep Hyderabad – Mumbai by flight 11am 3 sep Mumbai 4 sep Mumbai 5 sep Mumbai meetup Local Guides – Bangalore by flight 9pm 6 sep Bangalore 7 sep Bangalore – Yercaud 8 sep Yercaud – Mahabalipuram 9 sep Mahabalipuram 10 sep Mahabalipuram – Chennai Meetup local guides- Hyderabad by plane 11 sep Hyderabad – Home flight 11pm
Sebelumnya tahun 2020 untuk pindah kota menggunakan kereta, untuk perjalanan kali ini saya memilih pesawat domestik ketika pindah kota. Disamping menghemat waktu juga menghemat tenaga, tentu saja tidak hemat biaya.
Sedikit kesan dan cerita tentang kota-kota yang saya kunjungi,
Mumbai, Kota Padat, Macet dan Menggemaskan.
kalau dipikir, kota ini lebih mirip kota saya Jakarta, isssh mirip sekali! Mumbai punya segudang cerita, mulai dari gedung heritage peninggalan Inggris yang bertebaran, berbagai pantai, makanan yang bervariasi, dan local train yang mirip commuter line di Jakarta. Disini tercermin keberagaman yang hidup berdampingan dan aman. Tempat favorit saya di Mumbai adalah Museum Chhrapati Shivaraj Maharaj Vastu Sangrahalaya. Di kota ini, ku sempat bertemu @falguni @rosy @shrutinm Dr. Goro dan Deepak.
Bangalore, Kota Bersih dan Nyaman
Berkeliling di hari kerja, tidak begitu macet, kotanya bersih. Bangalore adalah bagian dari Karnataka, ada beberapa tempat heritage yang menarik, seperti ART Gallery, Gedung Pemerintahan yang megah, Tippu Palace dan istana Bangalore. Sempatkan meetup dengan @alwy @salman @aryasdee
Di Bangalore saya berkunjung di Cubbon, itu adalah area Kebon. Waktu saya keliling lihat kota Bangalore, serasa keliling di Bogor, Indonesia.
Yercaud, Kota di atas awan.
Destinasi ini tidak biasa, karena ada di pegunungan. Sebetulnya tidak termasuk dalam rencana, disini untuk transit istirahat 1 malam. Saya beruntung, pagi hari @travellerG mengajak berkeliling melihat keindahan Yercaud. Saya bahagia bisa melihat awan yang menghiasi langit, ada di bawah saya! Indah sekali deh.
Mahabalipuram, Kota Relief di pinggir pantai
Menyusuri bagian selatan India, datang ke kota ini, adalah suatu keistimewaan bagi saya. Terutama, dengan panduan dari TravellerG. Yang paling terkesan adalah mercusuar, relief ramayana, dan batu berdiri. 1 hari dengan panas menyengat, ketangguhan saya diuji untuk jalan keliling, mungkin ratusan foto dan video untuk mengenang hari itu, betul-betul mengasyikkan. TravellerG dengan sabar dan tabah menemani saya berkeliling.
Chennai, kenangan Tamil Nadu di Kota metropolis
Di Chennai saya bertemu teman-teman, @jose @jaison @deepak @mohan dan Arkan. Kami berkeliling di museum Daka Chitra. Tak hentinya saya berdecak kagum, berusaha mempelajari dan mengerti kebudayaan Tamil Nadu, bagian dari India. Wow. Makan siang dan berkeliling dengan mobil @jaison di chennai, melihat Chennai salah satu kota dengan sumber daya IT terbesar di India. Gedung-gedung disana sini, dipinggir pantai timur India.
Hyderabad, Kota dengan charminar dan Biryani yang enak
Awalnya ku pikir, cuma gossip kenikmatan nasi Biryani di Hyderabad. ishhh ternyata itu nyata. Enak Sekali. Tapi sesuatu yang enak, harus disertai perjuangan. ya, kami menunggu tempat duduk selama setengah jam lebih.
Hari terakhirku di India, ku lalui bersama Arati dan Naren, kami berkunjung ke Charminar yang terkenal itu. Aku terkesan disini, disamping indah, banyak yang jualan. Sayang ku ga sempat belanja!
Begitulah perjalananku ke India kali ini, walaupun solo travelling, tapi disana saya dibantu oleh teman-teman saya. Terima Kasih Local Guides Connect, telah mempertemukan aku dengan teman-teman yang baik di India Local Guides.
Ku doakan kalian sehat, sukses dan bahagia selalu, ku berharap bisa menyambut kalian di Jakarta, Indonesia. Ditunggu ya.
Nanti, saya cerita-cerita lagi deh perjalanan saya di India, untuk sementara, lihat video-video ini dulu ajah, siapa tahu Anda terinspirasi untuk pergi kesana juga.
Alhamdulillah Saya mempunyai kemampuan untuk mengingat lokasi secara detail dan jalan, walaupun saya hanya satu kali ke situ, dan biasanya memori itu bisa bertahan hingga beberapa tahun saja, selama lokasi itu belum mengalami perubahan yang signifikan.
Contohnya saya sering diajak sama temen-temen untuk pergi belanja di Tanah Abang,Thamrin City atau Asemka untuk memberitahukan lokasi toko tempat kami belanja sebelumnya, karena Kebetulan saya ingat dan saya bisa menjadi penunjuk jalan.
Jangan kagum dulu, untuk mendapatkan ingatan tersebut saya harus melalui proses salah Jalan, salah lokasi, salah naik angkot, salah pintu, salah kamar. EH!
Ketika saya pergi sendiri tanpa pendamping, maka kemungkinan gagal lebih banyak daripada saya pergi bersama teman atau keluarga.
Pengalaman jalan bersama teman pun terkadang juga masih bisa nyasar, karena berdua punya pendapat dan informasi yang berbeda, dan kalau sudah begitu kita sama-sama ngotot lewat kiri, dan lewat kanan. Kejadian ini saya alami waktu saya backpack bersama Dini di Beijing.
Tapi pengalaman itu berharga Ketika saya kembali ke Beijing bersama rombongan lain. Saya yang mempunyai kelebihan mengingat jalan, lebih aware dan terbiasa untuk jalan kesana-kemari di Beijing, tanpa takut nyasar!
Waktu saya jalan ke Kuala Lumpur bulan Maret 2019, Saya mempunyai banyak kegagalan, seperti saya salah naik bis, salah berhenti stasiun kereta, Salah Antri masuk (ini parah).
Wkkwkwkw
dan semua pengalaman itu bisa menjadi bekal saya untuk jalan ke Kuala Lumpur, yang kedua kali bersama Revi di bulan Oktober 2019.
Saya membanggakan diri, “Kalau kamu nggak sama bunda, pasti kamu bisa tersesat, karena Bunda udah tahu di sini letaknya di sana masuknya, di sini beli makannya, en bla bla bla… “
Tapi itulah letak salah saya, menyombongkan diri, walaupun kepada anak sendiri. Waktu saya mau pulang ke Jakarta, saya hanya mau naik Bis ke Airport, karena kalau naik bis, jelas lebih irit. Sedangkan naik kereta ekspress dari KL Sentral seharga 55 RM, kurang lebih Rp 175.000 per orang. Saya dan Revi sudah berangkat dari hotel jam 12, padahal hotel ada di seberang NU Sentral, tapi kami cari-cari terminal bisnya gak ketemu, tanya sama penjaga mall, seperti security, mereka mengarahkan kami ke KL Sentral, padahal terminal bisnya ada di bawah mall Nu Sentral loh!
Sampai bolak-balik jalan, dari ujung ke ujung mall, naik turun lift dan ekskalator, kami gak temukan. Revi sudah mulai marah, karena kecapean. Aku juga udah mau nangis aja, kaki sudah sakit, dan hati juga sakit, karena Revi membentak Bunda. Akhirnya Bunda putuskan, ya udah kita naik KLIA Ekspress, nanti mungkin bisa bayar pakai kartu kredit.
Revi akhirnya melunak, mungkin lihat Bundanya mau nangis, dan desperate, akhirnya dia berusaha mengingat lokasi terminal bis yang ada di bawah Mall Nu Sentral. Sesungguhnya kami berdua pernah kesitu, pada saat pertama kali sampai di KL Sentral. Dan di hari pertama, kami tidak terlalu mengingat lokasinya. Kami ingat-ingat lagi yang terjadi pada saat sampai di KL Sentral, kami naik lift, dan keluar di tengah mall, terus bunda langsung pengen lihat-lihat kounter sepatu BATA yang ada di mall itu.
Kami berdua mencari kounter sepatu BATA, sekarang pun saya lupa, liftnya sebetulnya ada di lantai berapa yah, apakah betul 1 lantai dengan kounter sepatu BATA. Karena waktu itu kamu coba masuki, setiap pintu mengarah ke lift barang. Entah berapa pintu kami lalui!
Lift barang yang ada di tengah mall, pintunya tersembunyi, di belakang toko-toko, dan waktu kami menemukan liftnya, rasanya senang sekali.
Begitu lift terbuka, langsung terlihat area parkir dengan banyak bis yang parkir. Di sebelahnya ada kounter untuk membeli tiket. Tiket seharga 15RM menuju KLIA.
Duduk nyaman di mobil, dalam perjalanan kami makan siang, makannya 1 nasi berdua Hahaha…
Begitulah cerita nyasar saya, sayangnya saya gak sempet foto lift dan terminal bisnya sih. keburu stress dan seneng!
bukan saja jalan-jalan ke luar negeri, atau keluar kota, pemahaman bagi saya, Solo travel itu bisa juga jalan-jalan di kota sendiri. Karena seringnya saya jalan-jalan sendiri, tanpa didampingi oleh keluarga atau teman, saya menganggap semua perjalanan saya itu Solo travel.
Ya iyalah!
orang naik sendiri ,turun sendiri ,naik ojek sendiri, masa naik ojek yang berdua? cabe-cabean dong
Saya punya keunikan, suka menjelajah, suka jalan-jalan walaupun saya sendirian, karena anak saya, Revi, tidak mau diajak jalan-jalan.
Saya jalan-jalan dalam rangka mencari konten untuk youtube channel saya atau memang saya lagi iseng.
Menurut saya tidak perlu tergantung dengan orang lain Kalau anda ingin mendapatkan kesenangan dari jalan-jalan.
Walaupun sendiri Kita bisa kok happy, karena yang membuat bahagia itu adalah diri sendiri.
Cuman ya itu kalau jalan-jalan sendiri, resikonya nggak ada yang motoin. Hahahahha
Pengalaman waktu jalan di Kuala Lumpur Solo traveling jadi memang sebelum kita jalan kita harus melakukan beberapa hal berikut ini ini untuk meminimalisir resiko yang akan terjadi
Setelah anda menentukan destinasi negara yang akan dituju kita harus melakukan hal-hal berikut ini
membuat riset mengenai lokasi yang akan dituju caranya bisa dengan membaca buku atau blog walking. Riset juga bisa dilakukan dengan bertanya pada orang yang pernah ke tempat itu. Kalau saya waktu ke Kuala Lumpur, Saya tidak banyak bertanya. Saya hanya baca dari blog traveller asal Indonesia
Sedangkan kalau perjalanan agak lebih jauh, seperti rencana ke India, maka saya melakukan riset dengan cara bertanya kepada orang yang sudah pernah melakukan travelling ke sana. Ada beberapa orang yang menjadi narasumber saya bukan hanya satu orang tertentu.
Hal-hal yang harus di riset adalah sebagai berikut
1. Rancangan perjalanan atau lokasi yang akan dituju biasanya lokasi wisata kita harus tahu tempat wisata apa saja, jam buka, harga tiket, dan bagaimana kita bisa mencapai lokasi tersebut.
2. Kita harus mencari tahu mengenai transportasi selama berada di sana.
3. Pahami keunikan dari daerah tersebut bisa dibaca dari cerita-cerita yang ada di internet.
4. Cari tahu mengenai kuliner di sana.
5. Kalau yang ini sangat penting bagi saya, yaitu cari kenalan local guides yang ada di daerah itu, sehingga bisa punya referensi atau sempatkan diri bertemu dengan mereka, Siapa tahu anda beruntung diantar mereka jalan-jalan.
Solo travelling itu mudah, asalkan persiapan matang. Berani kan jalan-jalan sendiri? Berani lah!