Sisi Gelap Solo Traveling: Saat Kebebasan Dibayar Beban Mental dan Logistik

Di media sosial, solo traveling kelihatannya seru banget: bebas pergi ke mana aja tanpa perlu nungguin teman, foto-foto estetik, dan kelihatan mandiri banget. Tapi jujur deh, di balik indahnya konten jalan-jalan sendirian, ada realitas dan tantangan yang lumayan bikin ngelus dada.

Buat kamu yang lagi ngerencanain jalan-jalan sendiri, ini dia sisi gelap solo travel yang wajib kamu tahu biar makin siap mental!

1. Bebas Sih, Tapi Dompet Diuji (Hotel & Taksi Ditanggung Sendiri)

Momen paling kerasa pas solo travel adalah saat bayar tagihan. Nggak ada istilah “split bill”!

  • Kamar Hotel: Mau tidur di kamar isi satu atau dua kasur, harganya tetap sama. Kamu harus bayar full tanpa ada teman patungan.
  • Ongkos Transportasi: Naik taksi atau sewa mobil sendirian harganya berlipat-lipat lebih mahal dibanding kalau bisa bagi berdua atau bertiga.

2. Pas Sakit, Semua Harus Diurus Sendiri

Ini salah satu momen paling dramatis pas jalan-jalan. Pas badan mendadak demam, masuk angin, atau asam lambung naik di negeri orang:

  • Nggak ada yang nemenin, ngambilin air minum, atau beliin obat ke apotek.
  • Dengan kondisi badan lemas dan pusing, kamu tetap harus mikir sendiri, nyari apotek terdekat, atau bahkan maksain jalan ke klinik sendirian.

3. Keamanan Ekstra Waspada (Khususnya Buat Wanita) & Bayang-Bayang Scammer

Isu keamanan emang jadi prioritas nomor satu, apalagi buat solo traveler wanita.

  • Harus punya “radar” yang selalu aktif buat menghindari area rawan atau orang yang berniat jahat.
  • Jadi sasaran empuk scammer atau penipu lokal karena kamu kelihatan sendirian dan kebingungan. Mau ngobrol sama orang asing pun kadang harus mikir dua kali antara mau ramah atau waspada.

4. Kena Decision Fatigue (Kelelahan Mengambil Keputusan)

Kelihatannya enak bisa bebas nentuin mau ke mana aja, tapi lama-lama otak bisa capek banget.

  • Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, 100% keputusan ada di tanganmu. Mau makan apa, naik bus nomor berapa, pindah kota jam berapa, sampai urusan jalan mana yang aman.
  • Nggak ada teman buat sekadar dibilang, “Kamu aja deh yang milih restorannya, aku ikut aja.”

5. Rasa Kesepian yang Datang Tiba-Tiba

Pasti ada momen-momen rentan di mana kamu merasa emotional isolation.

  • Pas ngeliat pemandangan luar biasa bagus atau makan makanan enak banget, tiba-tiba ada rasa nyesek karena nggak ada teman di samping yang bisa diajak sharing kehebohan secara langsung.
  • Rasa sepi ini biasanya makin kerasa pas malam hari di kamar hotel atau saat kena culture shock.

6. Nggak Bisa “Nitip” Barang & Repot Urusan Logistik

Hal-hal sepele bisa jadi tantangan berat kalau lagi sendirian di tempat umum.

  • Urusan ke toilet: Mau ke toilet stasiun atau bandara? Kamu harus gotong seluruh koper dan ransel berat masuk ke dalam bilik mandi. Nggak ada teman yang bisa dititipin.
  • Urusan Foto: Mau dapat foto bagus? Harus modal sabar pasang tripod sendirian, atau pasrah minta tolong orang lewat yang hasil fotonya belum tentu sesuai harapan.

7. Travel Burnout dan Kehilangan Rasa Kagum

Kalau jalannya agak lama, bakal ada fase di mana kamu merasa jenuh dan kecapekan total.

  • Candi, pantai, atau bangunan bersejarah yang megah bisa terasa “biasa aja” karena fisikan dan pikiranmu udah terlalu lelah ngurusin logistik sendirian.
  • Nggak ada energi tambahan dari teman perjalanan buat bikin suasana jadi seru lagi.

Kesimpulannya?

Solo travel itu emang memberikan kebebasan luar biasa dan bikin kita makin tangguh. Tapi ingat, bayarannya adalah semua beban finansial, fisik, dan mental harus ditanggung 100% sendirian.

Rekomendasi Hotel Yogyakarta

Halo semuanya! Jogja itu emang selalu ngangenin, ya? Mulai dari kulinernya, suasananya, sampai keramahan warganya bikin kita selalu pengen balik lagi. Nah, buat kamu yang lagi merencanakan liburan ke Jogja dan masih bingung mau menginap di mana, kebetulan banget nih!

Aku mau bagiin review pribadi untuk beberapa hotel di Yogyakarta yang pernah aku kunjungi. Yuk, simak daftarnya sesuai dengan gaya liburan kamu!

Hotel Ramah Keluarga

Liburan bareng si kecil emang butuh persiapan ekstra, terutama soal milih tempat menginap. Dua hotel ini sukses bikin liburan keluarga jadi super nyaman dan menyenangkan:

1. Royal Ambarukmo Hotel

Wah, kalau yang ini sih surganya anak-anak! Fasilitas untuk si kecil di sini beneran lengkap, jadi staycation dijamin bikin mereka happy banget. Ada playground yang letaknya di luar dan di dalam ruangan. Kerennya lagi, ada fasilitas PlayStation juga, lho, jadi yang dewasa pun bisa ikut heboh main!

Untuk main air, ada waterboom mini dan kolam renang yang luas. Kamarnya rapi, cantik, dan di bawah ada bakery yang kuenya enak-enak. Soal sarapan nggak perlu ditanya, juara banget! Makanannya super variatif dan yang paling penting, ada area khusus untuk makanan anak-anak.

(Untuk pesan, bisa klik di sini ya!)

2. Melia Purosani

Lokasinya asyik banget, lumayan dekat dengan jalan Malioboro dan pusat oleh-oleh. Fasilitas hotel untuk anak-anak juga terbilang memadai. Kolam renangnya luas dan cantik banget karena dikelilingi taman yang asri. Di tamannya ada kolam ikan, anak-anak pasti seneng banget deh diajak kasih makan ikan di sini! Oh ya, ada playground juga buat mereka main.

Kamarnya bagus dan sesuai standar bintang lima. Poin plusnya lagi, di sini ada fasilitas spa! Kamu bisa panggil terapisnya ke kamar atau datang langsung ke tempatnya. Wah, beneran deh, ayah ibu senang dan rileks, anak-anak juga bahagia!

(Untuk pesan, bisa klik di sini ya!) 

Hotel dengan Lokasi Strategis

Buat kamu yang nggak mau ribet soal mobilitas dan pengen ke mana-mana dekat, deretan hotel ini adalah jawabannya:

1. Royal Malioboro

Posisinya juara! Sangat dekat dengan Stasiun Tugu dan pastinya dekat ke area Malioboro. Fasilitas hotelnya super lengkap dan daya tarik utamanya ada di kolam renang rooftop-nya yang asyik buat nyantai. Royal Malioboro juga punya bakery dan restoran yang enak, jadi menu makan pagi di sini sangat bervariasi dan memanjakan lidah.

(Untuk pesan, bisa klik di sini ya!) 

2. The Malioboro Hotel

Satu lagi pilihan jitu buat kamu yang memang pengen banget nongkrong seharian di kawasan Malioboro. Aksesnya yang gampang bikin kamu nggak perlu pusing mikirin ongkos atau capek jalan jauh!

(Untuk pesan, bisa klik di sini ya!) 

Hotel Unik dan Warna-warni

Bosan dengan suasana hotel yang gitu-gitu aja? Kamu wajib banget coba menginap di sini:

Por Aqui Stay and Dine

Hotel ini vibes-nya beneran beda dan cantik banget! Setiap sudutnya punya dekorasi yang unik dan warna-warni, cocok banget buat kamu yang suka foto-foto OOTD. Fasilitasnya ada kolam renang, restoran dengan konsep yang sama uniknya, dan jangan khawatir, tersedia mushola juga yang nyaman. Lokasinya ada di daerah Prawirotaman, surganya toko souvenir lucu dan deretan kafe hits!

(Untuk pesan, bisa klik di sini ya!) 

@devidimitra

Hotel unik dengan konsep ala Mexico di Yogyakarta. Lokasi strategis dan harga terjangkau. #tibatibahealing #jalanjalan #rekomendasihotel

♬ suara asli – DeviDimitra – DeviDimitra

Hotel Affordable dan Cocok Solo Traveler

Jalan-jalan sendirian ke Jogja dengan budget hemat? Nggak masalah, ada opsi kece buat kamu:

Huma Hostel Yogyakarta

Ini dia andalan buat para solo traveler dan backpacker. Huma Hostel menawarkan harga yang sangat terjangkau tapi fasilitasnya nggak murahan. Kamarnya bersih, furniture-nya estetik banget bikin betah, dan yang paling seru ada ruang komunalnya. Asyik banget kan buat sekadar nyantai sambil kenalan sama traveler lain dari berbagai daerah!

Nah, itu dia beberapa rekomendasi hotel di Jogja berdasarkan pengalaman pribadiku. Semoga ulasan ini bisa bantu kamu menemukan tempat menginap yang paling pas, ya. Selamat merencanakan liburan dan salam hangat dari Jogja!

(Untuk pesan, bisa klik di sini ya!)

@devidimitra

Pas lagi ke Jogja menemukan hostel minimalis dan cantik dengan kamar super nyaman dan harga terjangkau. #jalanjalan #humahostel

♬ suara asli – DeviDimitra – DeviDimitra

5 Alasan eSIM Wajib Disiapkan Sebelum Solo Traveling

Kalau ada satu hal yang menurutku wajib dipersiapkan sebelum solo traveling ke luar negeri, jawabannya bukan koper, bukan baju, bahkan bukan itinerary. Tapi koneksi internet.

Percaya deh, saat jalan sendirian, internet itu bukan sekadar buat upload foto atau update media sosial. Internet adalah “teman perjalanan” yang akan sangat membantu ketika mencari arah, memesan transportasi, menghubungi hotel, sampai mencari informasi darurat.

Karena itu, sekarang aku selalu memilih menggunakan eSIM setiap kali bepergian ke luar negeri. Jauh lebih praktis dibanding harus mencari konter kartu SIM lokal setelah mendarat.

Kalau kamu juga sedang merencanakan liburan ke luar negeri, sebaiknya beli eSIM sebelum berangkat, supaya begitu pesawat mendarat, koneksi internet langsung aktif dan kamu bisa langsung beraktivitas tanpa ribet.

Kalau ingin membeli eSIM, silakan klik halaman ini dan pilih paket yang paling sesuai dengan kebutuhan perjalananmu.

1. Langsung Online Begitu Mendarat

Ini keuntungan yang paling terasa.

Begitu pesawat landing, kamu bisa langsung membuka Google Maps, memesan transportasi online, menghubungi hotel, atau memberi kabar ke keluarga kalau sudah sampai dengan selamat.

Nggak perlu antre beli kartu SIM lokal atau bingung mencari konter di bandara.

2. Lebih Hemat Waktu dan Tenaga

Saat solo traveling, setiap menit itu berharga.

Daripada menghabiskan waktu mencari toko kartu SIM atau mencoba memahami paket internet lokal yang bahasanya belum tentu kita mengerti, lebih baik waktu tersebut dipakai untuk mulai menikmati perjalanan.

Semua sudah siap sebelum berangkat.

3. Navigasi Jadi Lebih Mudah

Google Maps adalah penyelamat saat jalan sendiri.

Mau cari restoran halal, halte bus, stasiun metro, supermarket, ATM, atau hotel, semuanya tinggal buka peta.

Dengan koneksi internet yang stabil, peluang tersesat juga jadi jauh lebih kecil.

4. Lebih Aman Saat Kondisi Darurat

Solo traveling memang menyenangkan, tetapi tetap perlu memikirkan faktor keamanan.

Kalau sewaktu-waktu terjadi perubahan jadwal, kehilangan arah, atau membutuhkan bantuan, internet akan memudahkan kita mencari informasi maupun menghubungi orang yang diperlukan.

Sebagai langkah antisipasi, selalu simpan nomor telepon dan alamat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) atau Konsulat RI terdekat di negara tujuan. Semoga tidak pernah digunakan, tetapi lebih baik sudah siap daripada panik saat dibutuhkan.

5. Tetap Bisa Mengatur Semua Rencana Perjalanan

Mulai dari mengecek jadwal kereta, membeli tiket atraksi, memesan transportasi, sampai mencari rekomendasi tempat makan, semuanya sekarang serba online.

Dengan eSIM, kamu bisa mengatur perjalanan kapan saja tanpa harus bergantung pada Wi-Fi hotel atau kafe.

Rasanya jauh lebih tenang karena semua informasi ada di genggaman.

Tips Menggunakan eSIM Saat Traveling

Supaya perjalanan makin nyaman, ini beberapa tips yang selalu aku lakukan:

  • Beli eSIM sebelum hari keberangkatan, jadi tidak terburu-buru saat di bandara.
  • Pastikan smartphone yang digunakan sudah mendukung eSIM.
  • Aktifkan eSIM sesuai petunjuk, lalu cek kembali sebelum berangkat.
  • Tetap simpan SIM utama agar nomor WhatsApp dan layanan penting lainnya tetap bisa digunakan jika diperlukan.
  • Simpan nomor KBRI atau Konsulat RI terdekat di kontak ponsel sebagai langkah antisipasi selama perjalanan.

Menurutku, eSIM adalah salah satu pengeluaran kecil yang manfaatnya sangat besar, terutama untuk solo traveler. Perjalanan jadi lebih efisien, lebih praktis, dan tentu saja memberikan rasa tenang sejak pertama kali tiba di negara tujuan.

Kalau kamu juga sedang menyiapkan liburan ke luar negeri, klik halaman ini untuk membeli eSIM yang sesuai dengan destinasi perjalananmu. Lebih enak berangkat dengan semua kebutuhan internet sudah beres dari rumah.

Tour Harian yang Bikin Solo Traveling Makin Santai

Salah satu pertanyaan yang paling sering aku terima setelah solo traveling ke Azerbaijan dan Georgia adalah, “Kalau jalan sendiri, gimana ke tempat-tempat yang jauh dari kota?”

Jawabannya sederhana. Walaupun semua itinerary selama perjalanan aku susun sendiri, ada beberapa destinasi yang memang lebih praktis kalau menggunakan day tour. Kebetulan selama di Azerbaijan dan Georgia aku pesan tour melalui Trip.com.

Yang aku suka, pilihan tournya banyak dan fleksibel. Tinggal pilih sesuai kebutuhan dan destinasi yang diinginkan. Bahkan aku sering baru pesan H-2, kadang malah sehari sebelum berangkat, dan semuanya tetap berjalan lancar.

Azerbaijan: Lebih Praktis Pakai Tour

Ada beberapa tempat wisata di Azerbaijan yang menurutku jauh lebih efisien kalau menggunakan tour. Selain jaraknya cukup jauh dari pusat kota, beberapa lokasi juga tidak memiliki transportasi umum. Kalau harus naik taksi pulang-pergi atau menyewa mobil sendiri, biayanya justru jauh lebih mahal.

Selama di Azerbaijan, aku ikut dua kali day tour.

Day 1

  • Candy Cane Mountain
  • Quba
  • Shahdag Mountain Resort

Pemandangannya luar biasa indah. Dari perbukitan bergaris unik sampai pegunungan bersalju, semuanya bisa dinikmati tanpa harus repot memikirkan rute perjalanan.

Day 2

  • Sumur minyak pertama di dunia
  • Masjid Bibi Heybat
  • Gobustan
  • Mud Volcano
  • Makan siang
  • Yanardag (Gunung Api Abadi)

Hari kedua ini menurutku seru karena destinasinya sangat beragam. Mulai dari wisata sejarah, fenomena alam yang unik, sampai melihat api alami yang terus menyala.

Silakan klik di sini untuk melihat paket tournya dan langsung melakukan pemesanan.

Georgia: Tinggal Duduk Manis dan Menikmati Pemandangan

Saat berada di Georgia, aku juga memilih ikut day tour. Destinasinya adalah:

  • Zhinvali Reservoir
  • Ananuri Fortress
  • Gudauri

Sebenarnya perjalanan hari itu seharusnya sampai ke Kazbegi. Sayangnya, saat itu salju turun sangat tebal sehingga jalan ditutup demi alasan keselamatan.

Tapi tenang saja, pihak penyelenggara tour langsung memberikan destinasi pengganti, yaitu The Chronicle of Georgia di akhir perjalanan. Ternyata sama sekali tidak mengecewakan. Justru jadi pengalaman yang berbeda dan tetap seru!

Silakan klik di sini untuk melihat paket tournya dan langsung melakukan pemesanan.

Kenapa Aku Tetap Memilih Tour?

Kalau jalan-jalan di kota besar seperti Baku atau Tbilisi, aku lebih suka eksplor sendiri. Rasanya lebih bebas dan fleksibel.

Tapi kalau tujuan sudah mengarah ke pegunungan, kawasan alam, atau tempat-tempat yang jauh dari kota, menurutku jauh lebih nyaman menggunakan jasa tour. Tidak perlu pusing menyusun rute, mencari transportasi, atau menghitung biaya taksi yang bisa membengkak.

Apalagi kalau solo traveling. Tinggal datang ke titik kumpul, naik bus, duduk santai, menikmati perjalanan, dan pulang dengan membawa banyak pengalaman seru.

Menurutku, dengan harga yang masih masuk akal, day tour seperti ini benar-benar worth it.

Kalau kamu juga sedang merencanakan liburan ke Azerbaijan atau Georgia, jangan ragu untuk pesan dari sekarang.

Yuk, klik di sini dan pilih paket tour yang paling cocok untuk perjalananmu!

Itinerary Jepang 7 Hari yang Anti Mainstream dan Penuh Hidden Gems

Ini perjalananku di Jepang selama 7 hari. Silahkan dibaca dan ditonton videonya, mungkin bisa memberikan inspirasi dan ide untuk itinerary kamu berikutnya.

Day 1 – Jakarta → Nagoya → Gifu → Takayama
Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Nagoya, lalu lanjut naik transportasi darat ke Gifu dan Takayama. Hari pertama memang lebih banyak dihabiskan di jalan, tapi ada satu misi penting yang nggak boleh dilewatkan: langsung menuju terminal bus untuk membeli tiket bus Kamikochi pulang-pergi (return) melalui vending machine. Tiket ini tidak bisa dibeli secara online dan menggunakan sistem first come, first serve, jadi semakin cepat diamankan, semakin tenang perjalanan berikutnya. Setelah semuanya beres, nikmati suasana kota pegunungan Takayama yang tenang dan klasik sebelum beristirahat.

Day 2 – Kamikochi Adventure
Pagi-pagi berangkat dari Takayama menuju Hirayu Onsen, lalu lanjut ke Kamikochi dan memulai perjalanan dari Taisho Pond. Mulai hiking sekitar pukul 08.30 dengan pemandangan sungai sebening kristal, pegunungan Alpen Jepang, dan jalur trekking yang ramah untuk semua level. Trek selesai sekitar pukul 14.30. Setelah kembali ke Takayama, masih ada waktu untuk berjalan santai di Takayama Old Town yang penuh bangunan tradisional era Edo. Tutup hari dengan makan malam di Kyoshi sambil menikmati suasana kota kecil yang hangat dan autentik.

Day 3 – Takayama → Shirakawa-go → Kanazawa
Pagi hari menuju Shirakawa-go, desa warisan dunia yang terkenal dengan rumah jerami bergaya gassho-zukuri. Nggak perlu buru-buru, cukup menikmati pemandangan ikoniknya, foto-foto, dan tentu saja mencicipi es krim lokal yang terkenal. Setelah itu lanjut naik bus pukul 11.20 menuju Kanazawa. Setibanya di Kanazawa, langsung telepon untuk melakukan reservasi kunjungan ke Ninja Temple dua hari ke depan karena tiketnya cukup terbatas.

Day 4 – Kanazawa dengan Sentuhan Tradisional
Hari ini waktunya merasakan suasana Jepang klasik dengan menyewa kimono. Berjalan santai menyusuri taman-taman cantik Kanazawa dan mengunjungi Istana Kanazawa yang megah. Kombinasi arsitektur tradisional, taman yang tertata rapi, dan suasana kota yang tenang bikin pengalaman terasa seperti masuk ke Jepang zaman dulu.

Day 5 – Hidden Side of Kanazawa
Mulai pagi dengan menjelajahi Nishi Chaya District yang lebih tenang dibanding kawasan geisha lainnya. Setelah itu menuju Ninja Temple sesuai reservasi. Menariknya, tur di dalam hanya tersedia dalam bahasa Jepang dan durasinya sekitar 45 menit. Meski begitu, bangunan penuh lorong rahasia dan jebakan ini tetap seru untuk dijelajahi. Setelah selesai, lanjut ke Samurai District untuk melihat rumah-rumah samurai yang masih terawat serta taman-taman cantik yang menghadirkan nuansa Jepang klasik.

Day 6 – Kanazawa → Nagoya
Berangkat pagi menuju Nagoya menggunakan bus. Setelah tiba, sempatkan membeli One Day Subway Pass agar lebih praktis berkeliling kota. Destinasi pertama adalah Nagoya Castle yang bisa dieksplor hingga sekitar pukul 15.30. Setelah itu lanjut ke Tsutaya Bookstore yang terkenal dengan desain modern dan spot foto estetik. Menjelang sore, menuju kawasan Sakae untuk menikmati suasana kota Nagoya saat senja, lengkap dengan gemerlap lampu kota yang mulai menyala.

Day 7 – Nagoya → Jakarta
Hari terakhir di Jepang. Nikmati pagi yang santai di Nagoya sebelum menuju bandara untuk penerbangan kembali ke Jakarta. Tujuh hari yang penuh kombinasi alam, budaya, kota bersejarah, dan pengalaman unik Jepang pun resmi berakhir, meninggalkan banyak cerita yang siap dibawa pulang.

Ingat Lokasi

Alhamdulillah Saya mempunyai kemampuan untuk mengingat lokasi secara detail dan jalan, walaupun saya hanya satu kali ke situ, dan biasanya memori itu bisa bertahan hingga beberapa tahun saja, selama lokasi itu belum mengalami perubahan yang signifikan.

Contohnya saya sering diajak sama temen-temen untuk pergi belanja di Tanah Abang,Thamrin City atau Asemka untuk memberitahukan lokasi toko tempat kami belanja sebelumnya, karena Kebetulan saya ingat dan saya bisa menjadi penunjuk jalan.

Jangan kagum dulu, untuk mendapatkan ingatan tersebut saya harus melalui proses salah Jalan, salah lokasi, salah naik angkot, salah pintu, salah kamar. EH!

Ketika saya pergi sendiri tanpa pendamping, maka kemungkinan gagal lebih banyak daripada saya pergi bersama teman atau keluarga.

Pengalaman jalan bersama teman pun terkadang juga masih bisa nyasar, karena berdua punya pendapat dan informasi yang berbeda, dan kalau sudah begitu kita sama-sama ngotot lewat kiri, dan lewat kanan.
Kejadian ini saya alami waktu saya backpack bersama Dini di Beijing.

Tapi pengalaman itu berharga Ketika saya kembali ke Beijing bersama rombongan lain. Saya yang mempunyai kelebihan mengingat jalan, lebih aware dan terbiasa untuk jalan kesana-kemari di Beijing, tanpa takut nyasar!

Waktu saya jalan ke Kuala Lumpur bulan Maret 2019, Saya mempunyai banyak kegagalan, seperti saya salah naik bis, salah berhenti stasiun kereta, Salah Antri masuk (ini parah).

Wkkwkwkw

dan semua pengalaman itu bisa menjadi bekal saya untuk jalan ke Kuala Lumpur, yang kedua kali bersama Revi di bulan Oktober 2019.

Saya membanggakan diri,
“Kalau kamu nggak sama bunda, pasti kamu bisa tersesat, karena Bunda udah tahu di sini letaknya di sana masuknya, di sini beli makannya, en bla bla bla… “

Tapi itulah letak salah saya, menyombongkan diri, walaupun kepada anak sendiri. Waktu saya mau pulang ke Jakarta, saya hanya mau naik Bis ke Airport, karena kalau naik bis, jelas lebih irit. Sedangkan naik kereta ekspress dari KL Sentral seharga 55 RM, kurang lebih Rp 175.000 per orang. Saya dan Revi sudah berangkat dari hotel jam 12, padahal hotel ada di seberang NU Sentral, tapi kami cari-cari terminal bisnya gak ketemu, tanya sama penjaga mall, seperti security, mereka mengarahkan kami ke KL Sentral, padahal terminal bisnya ada di bawah mall Nu Sentral loh!

Sampai bolak-balik jalan, dari ujung ke ujung mall, naik turun lift dan ekskalator, kami gak temukan. Revi sudah mulai marah, karena kecapean. Aku juga udah mau nangis aja, kaki sudah sakit, dan hati juga sakit, karena Revi membentak Bunda. Akhirnya Bunda putuskan, ya udah kita naik KLIA Ekspress, nanti mungkin bisa bayar pakai kartu kredit.

Revi akhirnya melunak, mungkin lihat Bundanya mau nangis, dan desperate, akhirnya dia berusaha mengingat lokasi terminal bis yang ada di bawah Mall Nu Sentral. Sesungguhnya kami berdua pernah kesitu, pada saat pertama kali sampai di KL Sentral. Dan di hari pertama, kami tidak terlalu mengingat lokasinya. Kami ingat-ingat lagi yang terjadi pada saat sampai di KL Sentral, kami naik lift, dan keluar di tengah mall, terus bunda langsung pengen lihat-lihat kounter sepatu BATA yang ada di mall itu.

Kami berdua mencari kounter sepatu BATA, sekarang pun saya lupa, liftnya sebetulnya ada di lantai berapa yah, apakah betul 1 lantai dengan kounter sepatu BATA. Karena waktu itu kamu coba masuki, setiap pintu mengarah ke lift barang. Entah berapa pintu kami lalui!

Lift barang yang ada di tengah mall, pintunya tersembunyi, di belakang toko-toko, dan waktu kami menemukan liftnya, rasanya senang sekali.

Begitu lift terbuka, langsung terlihat area parkir dengan banyak bis yang parkir. Di sebelahnya ada kounter untuk membeli tiket. Tiket seharga 15RM menuju KLIA.

Duduk nyaman di mobil, dalam perjalanan kami makan siang, makannya 1 nasi berdua Hahaha…

Begitulah cerita nyasar saya, sayangnya saya gak sempet foto lift dan terminal bisnya sih. keburu stress dan seneng!

Solo Travel di Kota Sendiri

Solo travel,


bukan saja jalan-jalan ke luar negeri, atau keluar kota, pemahaman bagi saya, Solo travel itu bisa juga jalan-jalan di kota sendiri. Karena seringnya saya jalan-jalan sendiri, tanpa didampingi oleh keluarga atau teman, saya menganggap semua perjalanan saya itu Solo travel.

Ya iyalah!

orang naik sendiri ,turun sendiri ,naik ojek sendiri, masa naik ojek yang berdua?
cabe-cabean dong

Saya punya keunikan, suka menjelajah, suka jalan-jalan walaupun saya sendirian, karena anak saya, Revi, tidak mau diajak jalan-jalan.

Saya jalan-jalan dalam rangka mencari konten untuk youtube channel saya atau memang saya lagi iseng.

Menurut saya tidak perlu tergantung dengan orang lain Kalau anda ingin mendapatkan kesenangan dari jalan-jalan.


Walaupun sendiri Kita bisa kok happy, karena yang membuat bahagia itu adalah diri sendiri.

Cuman ya itu kalau jalan-jalan sendiri, resikonya nggak ada yang motoin.
Hahahahha