Di media sosial, solo traveling kelihatannya seru banget: bebas pergi ke mana aja tanpa perlu nungguin teman, foto-foto estetik, dan kelihatan mandiri banget. Tapi jujur deh, di balik indahnya konten jalan-jalan sendirian, ada realitas dan tantangan yang lumayan bikin ngelus dada.
Buat kamu yang lagi ngerencanain jalan-jalan sendiri, ini dia sisi gelap solo travel yang wajib kamu tahu biar makin siap mental!
1. Bebas Sih, Tapi Dompet Diuji (Hotel & Taksi Ditanggung Sendiri)
Momen paling kerasa pas solo travel adalah saat bayar tagihan. Nggak ada istilah “split bill”!
Kamar Hotel: Mau tidur di kamar isi satu atau dua kasur, harganya tetap sama. Kamu harus bayar full tanpa ada teman patungan.
Ongkos Transportasi: Naik taksi atau sewa mobil sendirian harganya berlipat-lipat lebih mahal dibanding kalau bisa bagi berdua atau bertiga.
2. Pas Sakit, Semua Harus Diurus Sendiri
Ini salah satu momen paling dramatis pas jalan-jalan. Pas badan mendadak demam, masuk angin, atau asam lambung naik di negeri orang:
Nggak ada yang nemenin, ngambilin air minum, atau beliin obat ke apotek.
Dengan kondisi badan lemas dan pusing, kamu tetap harus mikir sendiri, nyari apotek terdekat, atau bahkan maksain jalan ke klinik sendirian.
3. Keamanan Ekstra Waspada (Khususnya Buat Wanita) & Bayang-Bayang Scammer
Isu keamanan emang jadi prioritas nomor satu, apalagi buat solo traveler wanita.
Harus punya “radar” yang selalu aktif buat menghindari area rawan atau orang yang berniat jahat.
Jadi sasaran empuk scammer atau penipu lokal karena kamu kelihatan sendirian dan kebingungan. Mau ngobrol sama orang asing pun kadang harus mikir dua kali antara mau ramah atau waspada.
4. Kena Decision Fatigue (Kelelahan Mengambil Keputusan)
Kelihatannya enak bisa bebas nentuin mau ke mana aja, tapi lama-lama otak bisa capek banget.
Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, 100% keputusan ada di tanganmu. Mau makan apa, naik bus nomor berapa, pindah kota jam berapa, sampai urusan jalan mana yang aman.
Nggak ada teman buat sekadar dibilang, “Kamu aja deh yang milih restorannya, aku ikut aja.”
5. Rasa Kesepian yang Datang Tiba-Tiba
Pasti ada momen-momen rentan di mana kamu merasa emotional isolation.
Pas ngeliat pemandangan luar biasa bagus atau makan makanan enak banget, tiba-tiba ada rasa nyesek karena nggak ada teman di samping yang bisa diajak sharing kehebohan secara langsung.
Rasa sepi ini biasanya makin kerasa pas malam hari di kamar hotel atau saat kena culture shock.
6. Nggak Bisa “Nitip” Barang & Repot Urusan Logistik
Hal-hal sepele bisa jadi tantangan berat kalau lagi sendirian di tempat umum.
Urusan ke toilet: Mau ke toilet stasiun atau bandara? Kamu harus gotong seluruh koper dan ransel berat masuk ke dalam bilik mandi. Nggak ada teman yang bisa dititipin.
Urusan Foto: Mau dapat foto bagus? Harus modal sabar pasang tripod sendirian, atau pasrah minta tolong orang lewat yang hasil fotonya belum tentu sesuai harapan.
7. Travel Burnout dan Kehilangan Rasa Kagum
Kalau jalannya agak lama, bakal ada fase di mana kamu merasa jenuh dan kecapekan total.
Candi, pantai, atau bangunan bersejarah yang megah bisa terasa “biasa aja” karena fisikan dan pikiranmu udah terlalu lelah ngurusin logistik sendirian.
Nggak ada energi tambahan dari teman perjalanan buat bikin suasana jadi seru lagi.
Kesimpulannya?
Solo travel itu emang memberikan kebebasan luar biasa dan bikin kita makin tangguh. Tapi ingat, bayarannya adalah semua beban finansial, fisik, dan mental harus ditanggung 100% sendirian.
Kalau ada satu hal yang menurutku wajib dipersiapkan sebelum solo traveling ke luar negeri, jawabannya bukan koper, bukan baju, bahkan bukan itinerary. Tapi koneksi internet.
Percaya deh, saat jalan sendirian, internet itu bukan sekadar buat upload foto atau update media sosial. Internet adalah “teman perjalanan” yang akan sangat membantu ketika mencari arah, memesan transportasi, menghubungi hotel, sampai mencari informasi darurat.
Karena itu, sekarang aku selalu memilih menggunakan eSIM setiap kali bepergian ke luar negeri. Jauh lebih praktis dibanding harus mencari konter kartu SIM lokal setelah mendarat.
Kalau kamu juga sedang merencanakan liburan ke luar negeri, sebaiknya beli eSIM sebelum berangkat, supaya begitu pesawat mendarat, koneksi internet langsung aktif dan kamu bisa langsung beraktivitas tanpa ribet.
Kalau ingin membeli eSIM, silakan klik halaman ini dan pilih paket yang paling sesuai dengan kebutuhan perjalananmu.
1. Langsung Online Begitu Mendarat
Ini keuntungan yang paling terasa.
Begitu pesawat landing, kamu bisa langsung membuka Google Maps, memesan transportasi online, menghubungi hotel, atau memberi kabar ke keluarga kalau sudah sampai dengan selamat.
Nggak perlu antre beli kartu SIM lokal atau bingung mencari konter di bandara.
2. Lebih Hemat Waktu dan Tenaga
Saat solo traveling, setiap menit itu berharga.
Daripada menghabiskan waktu mencari toko kartu SIM atau mencoba memahami paket internet lokal yang bahasanya belum tentu kita mengerti, lebih baik waktu tersebut dipakai untuk mulai menikmati perjalanan.
Semua sudah siap sebelum berangkat.
3. Navigasi Jadi Lebih Mudah
Google Maps adalah penyelamat saat jalan sendiri.
Mau cari restoran halal, halte bus, stasiun metro, supermarket, ATM, atau hotel, semuanya tinggal buka peta.
Dengan koneksi internet yang stabil, peluang tersesat juga jadi jauh lebih kecil.
4. Lebih Aman Saat Kondisi Darurat
Solo traveling memang menyenangkan, tetapi tetap perlu memikirkan faktor keamanan.
Kalau sewaktu-waktu terjadi perubahan jadwal, kehilangan arah, atau membutuhkan bantuan, internet akan memudahkan kita mencari informasi maupun menghubungi orang yang diperlukan.
Sebagai langkah antisipasi, selalu simpan nomor telepon dan alamat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) atau Konsulat RI terdekat di negara tujuan. Semoga tidak pernah digunakan, tetapi lebih baik sudah siap daripada panik saat dibutuhkan.
5. Tetap Bisa Mengatur Semua Rencana Perjalanan
Mulai dari mengecek jadwal kereta, membeli tiket atraksi, memesan transportasi, sampai mencari rekomendasi tempat makan, semuanya sekarang serba online.
Dengan eSIM, kamu bisa mengatur perjalanan kapan saja tanpa harus bergantung pada Wi-Fi hotel atau kafe.
Rasanya jauh lebih tenang karena semua informasi ada di genggaman.
Tips Menggunakan eSIM Saat Traveling
Supaya perjalanan makin nyaman, ini beberapa tips yang selalu aku lakukan:
Beli eSIM sebelum hari keberangkatan, jadi tidak terburu-buru saat di bandara.
Pastikan smartphone yang digunakan sudah mendukung eSIM.
Aktifkan eSIM sesuai petunjuk, lalu cek kembali sebelum berangkat.
Tetap simpan SIM utama agar nomor WhatsApp dan layanan penting lainnya tetap bisa digunakan jika diperlukan.
Simpan nomor KBRI atau Konsulat RI terdekat di kontak ponsel sebagai langkah antisipasi selama perjalanan.
Menurutku, eSIM adalah salah satu pengeluaran kecil yang manfaatnya sangat besar, terutama untuk solo traveler. Perjalanan jadi lebih efisien, lebih praktis, dan tentu saja memberikan rasa tenang sejak pertama kali tiba di negara tujuan.
Kalau kamu juga sedang menyiapkan liburan ke luar negeri, klik halaman ini untuk membeli eSIM yang sesuai dengan destinasi perjalananmu. Lebih enak berangkat dengan semua kebutuhan internet sudah beres dari rumah.
Buat yang masih ragu mencoba female solo traveling, semoga itinerary ini bisa jadi inspirasi. Sebagai seorang muslimah yang bepergian sendiri, perjalanan selama 9 hari di Azerbaijan dan Georgia memberikan banyak pengalaman berharga. Mulai dari bertemu orang-orang baru, menikmati keindahan alam, hingga belajar bahwa traveling sendirian ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Justru setiap harinya dipenuhi cerita dan kenangan yang akan selalu diingat.
Hari 1 – Menyapa Keindahan Kota Tua Baku
Perjalanan dimulai dari Baku, Azerbaijan, kota yang berhasil memadukan bangunan modern dengan sejarah yang masih terjaga. Hari pertama aku habiskan dengan berjalan santai menyusuri jalanan berbatu di Kota Tua (Old City). Rasanya seperti kembali ke masa lalu, dengan lorong-lorong kecil yang penuh pesona.
Setelah itu aku mampir ke Carpet Museum. Kali ini hanya sempat berfoto di bagian luar karena bentuk bangunannya yang unik menyerupai gulungan karpet sudah sangat ikonik. Sore harinya, perjalanan ditutup dengan menikmati suasana modern di Deniz Mall sambil melihat pemandangan Laut Kaspia.
Day 3 explore baku Azerbaijan. Dari pagi hujannya deras sehingga udara dingin dan berangin, mereda sekitar jam 10.00 dan aku langsung keluar hotel untuk foto-foto explore Kota Tua dari baku. Kembali ke hotel untuk check out dan jalan-jalan lagi. Aku sempat mampir ke Denis mall dan Museum karpet dari luar, kakiku sakit sekali karena melangkah terlalu jauh. 19.000 langkahku habiskan di hari itu. Aku harus pindah hotel dan hotel berikutnya tidak sesuai ekspektasi, kamarnya terlalu dingin, dan ada kesan horor. Walaupun begitu, aku tetap berusaha tidak mengeluh dan bertahan dengan kain selimut tipis dan baju berlapis. Bagaimanapun juga hariku berjalan dengan baik, dipertemukan dengan orang-orang baik, Alhamdulillah ya Allah. #jalanjalan#solotravel#femalesolotravel
Bisa cek dan booking pesawat ke Baku, Azerbaijan klik disini
Hari 2 – Ikon Modern Baku yang Wajib Dikunjungi
Hari kedua diisi dengan mengunjungi Heydar Aliyev Center yang terkenal dengan desain arsitekturnya yang futuristik. Bangunan ini benar-benar cantik dari berbagai sudut.
Selesai dari sana, aku melanjutkan perjalanan ke Nizami Street, kawasan favorit untuk berjalan kaki, belanja, sekaligus menikmati suasana kota. Yang paling berkesan adalah hamparan bunga tulip cantik di sepanjang area dekat laut, membuat suasana musim semi terasa semakin hidup.
Hari 3 – Open Trip ke Candy Cane Mountain & Shahdag
Hari ketiga menjadi salah satu highlight perjalanan. Aku mengikuti open trip menuju Candy Cane Mountain yang terkenal dengan garis-garis merah putih alami di perbukitannya. Pemandangannya benar-benar unik.
Perjalanan dilanjutkan menuju Pegunungan Shahdag yang menawarkan panorama pegunungan luas dengan udara yang sangat segar. Cocok sekali buat yang ingin menikmati sisi alam Azerbaijan.
Day 5 perjalananku di Azerbaijan, Hari ini aku memutuskan ikut tour untuk pergi ke candy cane mountain dan juga Shadag Mountain. sudah jadi impianku untuk foto di Gunung berwarna pink, sayangnya di situ hanya dikasih waktu 15 menit dan kemudian kami menuju ke quba untuk makan siang. Setelah itu kita ke Shadag Mountain dan aku nggak ekspek ternyata masih ada es di atas gunung, jadi aku bisa lihat pemandangan yang indah , bahkan cobain main es. aku happy banget #jalanjalan#solotravel#azerbaijan
Untuk ikut tour yang sudah disiapkan, bisa klik disini.
Hari 4 – Sejarah, Budaya, dan Fenomena Alam Azerbaijan
Hari keempat dipenuhi destinasi yang sangat beragam. Dimulai dari Gobustan yang terkenal dengan situs seni cadas purbakala berusia ribuan tahun.
Selanjutnya aku mengunjungi Bibi Heybat Mosque yang menjadi salah satu masjid penting di Baku. Sebagai muslimah, rasanya menyenangkan bisa singgah dan beribadah di sini.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Fire Temple dan ditutup di Yanar Dag, bukit api alami yang terus menyala sepanjang waktu. Fenomena alam ini benar-benar unik dan menjadi pengalaman yang berbeda selama berada di Azerbaijan.
Hari kelima menjadi hari perpindahan negara. Aku terbang dari Baku menuju Tbilisi, Georgia. Setelah tiba, waktunya lebih banyak digunakan untuk check-in hotel, beristirahat, dan mengisi tenaga untuk petualangan berikutnya.
Hari 6 – Menjelajahi Kota Tua Tbilisi
Hari pertama di Georgia langsung dimulai dengan berjalan kaki menyusuri Kota Tua Tbilisi. Aku mampir ke Kvarts Coffee yang estetik, melihat kemegahan Opera House Tbilisi, hingga mengunjungi Clock Tower yang ikonik.
Perjalanan dilanjutkan menyeberangi Bridge of Peace yang menghubungkan kawasan kota tua dengan sisi modern Tbilisi. Dari sana aku naik cable car menuju Bukit Sololaki untuk melihat patung Mother of Georgia sekaligus menikmati panorama kota dari ketinggian.
Hari 7 – Road Trip Menuju Pegunungan Georgia
Hari ketujuh aku mengikuti tour menuju kawasan pegunungan Georgia. Destinasi pertama adalah Zhinvali Reservoir dengan air berwarna biru kehijauan yang sangat indah.
Perjalanan dilanjutkan ke Benteng Ananuri yang memiliki nilai sejarah tinggi, kemudian melintasi kawasan Gudauri dengan panorama Pegunungan Kaukasus yang luar biasa cantik.
Sore harinya sebelum kembali ke kota, aku mengunjungi Chronicles of Georgia. Monumen raksasa ini terasa megah sekaligus menjadi tempat terbaik untuk menikmati matahari terbenam.
Day 9 Hari ini aku ikut tour berkelana di Gunung. Ternyata Aku diajakin ke pegunungan salju, kaget banget karena aku bisa nginjak dan megang salju, bahkan kepleset 4 kali senangnya cuma 5 menit Abis itu langsung nyari tempat anget lagi aku nggak main apa-apa di sana minum teh dan santai aja pas aku mau pulang aku ketemu sama orang Indonesia yang juga lagi main di Gudauri. perjalanan ke kazbegi dibatalkan diganti dengan Chronicles of Georgia seru juga sih di situ Setelah itu aku langsung pulang ke hotel #jalanjalan#georgia#solotravel
Hari kedelapan berjalan lebih santai. Aku mengunjungi salah satu katedral utama di Tbilisi sebelum melanjutkan berburu barang antik dan suvenir di Dry Bridge Market.
Tentu saja belum lengkap kalau belum mencoba kuliner khas Georgia. Aku memilih mencicipi Khinkali yang terkenal dengan isian daging dan kuah hangat di dalamnya. Rasanya benar-benar berbeda dari dumpling yang biasa aku makan.
Hari 9 – Sampai Jumpa, Georgia
Hari terakhir terasa sedikit emosional. Sebelum menuju bandara, aku kembali mengunjungi Dry Bridge Market untuk menikmati suasana pagi sekaligus membeli beberapa oleh-oleh terakhir.
Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan penerbangan menuju Istanbul, Turki. Rasanya berat meninggalkan Azerbaijan dan Georgia, tetapi perjalanan ini memberikan begitu banyak pengalaman berharga, terutama sebagai seorang female solo traveler muslimah.
Solo traveling bukan hanya soal berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga tentang mengenal diri sendiri, belajar lebih mandiri, dan berani keluar dari zona nyaman. Azerbaijan dan Georgia menjadi dua negara yang meninggalkan kesan mendalam, dengan perpaduan sejarah, alam, budaya, serta keramahan penduduk lokal yang membuatku ingin kembali suatu hari nanti.