Buat yang masih ragu mencoba female solo traveling, semoga itinerary ini bisa jadi inspirasi. Sebagai seorang muslimah yang bepergian sendiri, perjalanan selama 9 hari di Azerbaijan dan Georgia memberikan banyak pengalaman berharga. Mulai dari bertemu orang-orang baru, menikmati keindahan alam, hingga belajar bahwa traveling sendirian ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Justru setiap harinya dipenuhi cerita dan kenangan yang akan selalu diingat.
Hari 1 – Menyapa Keindahan Kota Tua Baku
Perjalanan dimulai dari Baku, Azerbaijan, kota yang berhasil memadukan bangunan modern dengan sejarah yang masih terjaga. Hari pertama aku habiskan dengan berjalan santai menyusuri jalanan berbatu di Kota Tua (Old City). Rasanya seperti kembali ke masa lalu, dengan lorong-lorong kecil yang penuh pesona.
Setelah itu aku mampir ke Carpet Museum. Kali ini hanya sempat berfoto di bagian luar karena bentuk bangunannya yang unik menyerupai gulungan karpet sudah sangat ikonik. Sore harinya, perjalanan ditutup dengan menikmati suasana modern di Deniz Mall sambil melihat pemandangan Laut Kaspia.
Bisa cek dan booking pesawat ke Baku, Azerbaijan klik disini
Hari 2 – Ikon Modern Baku yang Wajib Dikunjungi
Hari kedua diisi dengan mengunjungi Heydar Aliyev Center yang terkenal dengan desain arsitekturnya yang futuristik. Bangunan ini benar-benar cantik dari berbagai sudut.
Selesai dari sana, aku melanjutkan perjalanan ke Nizami Street, kawasan favorit untuk berjalan kaki, belanja, sekaligus menikmati suasana kota. Yang paling berkesan adalah hamparan bunga tulip cantik di sepanjang area dekat laut, membuat suasana musim semi terasa semakin hidup.
Hari 3 – Open Trip ke Candy Cane Mountain & Shahdag
Hari ketiga menjadi salah satu highlight perjalanan. Aku mengikuti open trip menuju Candy Cane Mountain yang terkenal dengan garis-garis merah putih alami di perbukitannya. Pemandangannya benar-benar unik.
Perjalanan dilanjutkan menuju Pegunungan Shahdag yang menawarkan panorama pegunungan luas dengan udara yang sangat segar. Cocok sekali buat yang ingin menikmati sisi alam Azerbaijan.
Untuk ikut tour yang sudah disiapkan, bisa klik disini.
Hari 4 – Sejarah, Budaya, dan Fenomena Alam Azerbaijan
Hari keempat dipenuhi destinasi yang sangat beragam. Dimulai dari Gobustan yang terkenal dengan situs seni cadas purbakala berusia ribuan tahun.
Selanjutnya aku mengunjungi Bibi Heybat Mosque yang menjadi salah satu masjid penting di Baku. Sebagai muslimah, rasanya menyenangkan bisa singgah dan beribadah di sini.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Fire Temple dan ditutup di Yanar Dag, bukit api alami yang terus menyala sepanjang waktu. Fenomena alam ini benar-benar unik dan menjadi pengalaman yang berbeda selama berada di Azerbaijan.
Untuk ikut tour di hari ke-4 aku pake link disini, bisa pesan langsung lewat artikel ini ya.
Hari 5 – Terbang Menuju Tbilisi, Georgia
Hari kelima menjadi hari perpindahan negara. Aku terbang dari Baku menuju Tbilisi, Georgia. Setelah tiba, waktunya lebih banyak digunakan untuk check-in hotel, beristirahat, dan mengisi tenaga untuk petualangan berikutnya.
Hari 6 – Menjelajahi Kota Tua Tbilisi
Hari pertama di Georgia langsung dimulai dengan berjalan kaki menyusuri Kota Tua Tbilisi. Aku mampir ke Kvarts Coffee yang estetik, melihat kemegahan Opera House Tbilisi, hingga mengunjungi Clock Tower yang ikonik.
Perjalanan dilanjutkan menyeberangi Bridge of Peace yang menghubungkan kawasan kota tua dengan sisi modern Tbilisi. Dari sana aku naik cable car menuju Bukit Sololaki untuk melihat patung Mother of Georgia sekaligus menikmati panorama kota dari ketinggian.
Hari 7 – Road Trip Menuju Pegunungan Georgia
Hari ketujuh aku mengikuti tour menuju kawasan pegunungan Georgia. Destinasi pertama adalah Zhinvali Reservoir dengan air berwarna biru kehijauan yang sangat indah.
Perjalanan dilanjutkan ke Benteng Ananuri yang memiliki nilai sejarah tinggi, kemudian melintasi kawasan Gudauri dengan panorama Pegunungan Kaukasus yang luar biasa cantik.
Sore harinya sebelum kembali ke kota, aku mengunjungi Chronicles of Georgia. Monumen raksasa ini terasa megah sekaligus menjadi tempat terbaik untuk menikmati matahari terbenam.
Untuk ikut tour ke Gudauri, bisa pakai link di sini. Bisa langsung pesan lewat artikel ini ya,
Hari 8 – Santai Menikmati Tbilisi
Hari kedelapan berjalan lebih santai. Aku mengunjungi salah satu katedral utama di Tbilisi sebelum melanjutkan berburu barang antik dan suvenir di Dry Bridge Market.
Tentu saja belum lengkap kalau belum mencoba kuliner khas Georgia. Aku memilih mencicipi Khinkali yang terkenal dengan isian daging dan kuah hangat di dalamnya. Rasanya benar-benar berbeda dari dumpling yang biasa aku makan.
Hari 9 – Sampai Jumpa, Georgia
Hari terakhir terasa sedikit emosional. Sebelum menuju bandara, aku kembali mengunjungi Dry Bridge Market untuk menikmati suasana pagi sekaligus membeli beberapa oleh-oleh terakhir.
Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan penerbangan menuju Istanbul, Turki. Rasanya berat meninggalkan Azerbaijan dan Georgia, tetapi perjalanan ini memberikan begitu banyak pengalaman berharga, terutama sebagai seorang female solo traveler muslimah.
Solo traveling bukan hanya soal berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga tentang mengenal diri sendiri, belajar lebih mandiri, dan berani keluar dari zona nyaman. Azerbaijan dan Georgia menjadi dua negara yang meninggalkan kesan mendalam, dengan perpaduan sejarah, alam, budaya, serta keramahan penduduk lokal yang membuatku ingin kembali suatu hari nanti.
