Koleksi Kertas Surat dari Tahun 80

Sebelum era Email, ada era mengirimkan surat menggunakan kertas dan amplop. Dikirim dengan pos dan diantar ke rumah. Dulu aku koleksi kertas surat yang lucu-lucu, seingatku sejak kelas 3 SD atau kelas 4. Waktu itu kami bertukaran kertas surat dengan teman-teman sebaya.

Kertasnya ada yang produksi lokal dan ada yang impor, bahkan kadang ada yang wangi. Gambarnya ada yang nuansa romantis atau kartun. 

Yang paling mahal dengan merk Sanrio, dimana karakter utamanya Hello Kitty dan kawan-kawan. Aku paling suka dengan Little Twin Stars. 

Harga kertas surat Sanrio amat mahal, dan aku    jarang beli.  Tapi aku punya banyak, karena kami para anak perempuan suka tukeran kertas suratnya. 

Suatu ketika aku berulang tahun ke 16, aku diajak ke Plaza Indonesia, disitu ada toko Family Young dan Adinata, dan aku minta kado ke ayahku belanja kertas surat. Ayahku membelikan semuanya, dan aku puas punya banyak macam kertas surat.

Ketika sudah kerja, aku menyimpan kertas suratnya dalam folder transparan. Sehingga sampai saat ini masih ku simpan.

Ada kenangan buruk tentang kertas surat,  aku punya banyak kertas surat dan ku simpan dalam map. Dan ketika jam olahraga, kami keluar dari kelas untuk berolahraga, ketika kembali ke dalam kelas, koleksi kertas suratku raib, Aku sedih dan marah, aku yakin aku taruh di dalam tas, dan tasnya ku taruh di bawah bangku, tapi aku tidak temukan map itu. Waktu itu aku tidak ada pikiran siapa yang bisa mencuri, karena aku sekolah di sekolah swasta, ku pikir semua temanku kaya raya. 

Ketika pulang sekolah, aku masih belum pulang, dan aku lihat teman perempuanku sedang tukeran kertas, disitu aku lihat kertas suratku ada satu map dipegangnya, kenapa dia berani mengeluarkannya, karena dia mau pamer ke temanku yang lain, dan kebetulan aku melihatnya. 

Aku langsung marah dan teriak-teriak, tapi dia tidak mau ngaku. Tiba-tiba ada kakak laki-lakiku yang masuk ke kelas, dan bertanya ada apa gerangan. Aku menangis dan bilang ke kakakku, kalau kertas surat itu milikku.  Tapi kakakku hanya tersenyum, dan berusaha menenangkan aku yang histeris, sementara temanku mukanya pucat dan tetap bersikukuh kalau itu miliknya.

Aku lupa bagaimana akhirnya, apakah aku berhasil mengambil kembali koleksiku. 

Kejadian itu sudah lama berlalu, hampir empat puluh tahun yang lalu, tapi aku masih kebayang muka si pencuri.